Tampilkan postingan dengan label catatan harian. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label catatan harian. Tampilkan semua postingan

Kamis, 15 Januari 2026

Segenap Pagi



Oleh: Desma H.


Pagi yang genap, menerima segala ruah dari sinaran yang belum padu. Di sekelilingnya menebar pinta-pinta yang tak jelas kemana muara. Satu sudut, aku menemukanmu bersama air mata. Apakah itu sejenak haru? Atau hempasan lara yang kau sembunyikan di balik senyummu yang menawan?

Betapa rumit cahaya mata yang melingkupi wajah tenangmu. Kedamaian yang tak hanya berpendar dari sekelebat singgah, namun mampu mendekap risau nan parah. 

Kuhampiri air mata yang  serasa tertuju untukku. Memastikan dekat, benarkah bola mata itu memeluk wajahku. 

Sampai di sini, kutemukan kerangka diri remuk. Bayanganmu pendar bersama embun pagi.


Bandar Lampung, 16 Januari 2026



Selasa, 02 Desember 2025

Pengakuan



Bagaimana kabar diri?

Aku mengawali tulisan ini dengan menyapa diriku sendiri. Meskipun setelah beberapa huruf terangkai, pada akhirnya, kudapati sederet kenang kehidupan kian menjadikanku terjebak dalam ruang sunyi. aku tak menemukan bagaimana ragaku mematung di suatu denah, aku juga tak menemukan ragaku bergerak dengan lincah. Di sudut waktu yang kurapal detik itu dengan berat, kudapati tubuhku mati berkali-kali dalam bakti yang paling palung.

Apakah aku merencanakan itu semua? Tidak, wahai negeri yang menjadikanku asing.  



RS. US.

2 Desember 2025



Rabu, 29 Oktober 2025

Sepotong Purnama, Milikmu

 Oleh: Desma H.


Malam yang cerah tetap berkawan angin. Beberapa saat lalu, aku merasakan desaunya yang mengalahkan isak. Sedari tadi aku mencoba kembali mencerna, bagian apa saja yang telah kucoba lenyapkan? Sepertinya di sana ada bayanganmu yang tak lagi memiliki kerangka dalam benakku. Bukan karena tak pantas. Lebih tepat aku yang begitu lepas, saat wajahmu begitu dekat.

Apakah aku bisa, menculikmu untuk sepotong purnama?


Rabu, 29 Oktober 2025

Jumat, 24 Oktober 2025

Warnamu, adalah Air Mata

 



Oleh: Desma H.



Ini adalah pergantian hari, yang sunyi. Aku menemukan malam berawan di atas kepala. Bising kendaraan berkurang. Kuamati lampu-lampu jalan meredup. Perlahan rerintik turun lembut. Seuntai senyum berlabuh di kelopak mata. Entah bayangan kapan yang masih bisa lekat dalam ingatan. Beberapa waktu terakhir, aku benar-benar lupa bagaimana wajahmu. Kemudian desau angin yang merangkulku sejauh ini, menepis ragam isak yang kubendung sejak tadi. 

Jumat, 19 September 2025

Jum'at Keramat





Oleh: Desma H.


Catatan itu kututup perlahan, lembaran yang sejak tadi kubiarkan terbuka tetap kosong. berangsur usai waktu berlalu. Detik begitu pasti meninggalkan kekagumanku pada langit. Kosong, berawan, tak kutemukan gemintang, setidaknya di bentang mega yang tak sanggup kupeluk.

Setiap perkemahan selalu memiliki cerita yang berbeda. Maka lengkaplah perjalananku seharian ini, bertengger di sekolah dengan kesibukan nan membuat wajah senyum sumringah. Para tenda bermunculan, menyambut maghrib yang sakral. Jum'at ini akan berbeda. Aku menandai dengan serangkaian doa di petikan waktu. Menyisakan harap yang mengangkasa, dititipkan kepada desau angin, sampailah ke hadapan sosok-sosok penabuh makna. Riuh pada jiwa, menderma senyum yang tiada padam, setidaknya dari sini terobati para penganut luka.

Perjalanan semakin terbentang panjang. Beberapa diksi tetap menyendiri di sudut ruang. Sebagian lagi sembunyi, dan tak bersedia kuculik sebagai koleksi. Puisiku menggerutu, di tengah kepingan lagu. Nada yang satu-satu, berai. 

Mereka tengah menyiapkan malam tanpa kantuk, meskipun mata telah menjerit untuk ditekuk. Ruang hampa yang telah mereka ciptakan, akan segera terisi dengan gumpalan rasa yang tak bisa dibaca mata. Namun di hati akan merencanakan kesan-kesan tersendiri untuk dikaikan dengan masa depan.

Mengukir sejarah esok dengan menapaki hari ini, kegembiraan yang menyamar dalam berat langkah. Juga takdir, yang membersamai jumpa, di setapak langkah beku. Akan tetapi, ramuan risau itu telah kehilangan pemiliknya. Pada waktu yang tercatat, pandangan tersesat, mungkin esok baru akan kutemukan warna lain dari penggalan cakra gama.



Bandar Lampung, 20 September 2025

00.07 WIB

Minggu, 10 Agustus 2025

Kupeluk Bayanganmu yang Sepi

 



Oleh: Desma H.



Memeluk bayangan yang mendera, di teritis hujan yang mampir. Aku masih mendekap warnamu di sore itu. Apakah ada luka yang kau simpan di balik diam dan gemetar bibirmu? Izinkan aku menemukan sedikit airmata sebagai alasan, bahwa aku tetap layak untuk tetap tinggal. Jangan sembunyi di ketenangan parasmu, sedang hatimu gerimis mengantar langkahku.

Hari ini, adakah tercatat untuk kita kenang nanti? Meskipun kita tak pernah menjadi bagian yang saling peduli atau malah membiarkan.

Atau sekedar kata-kata beku, yang akan kita ceritakan suatu ketika.


Natar, Lampung Selatan, 10 Agustus 2025

Kamis, 07 Agustus 2025

Sepotong Rembulan yang Membawa Senyummu Pulang

 



Oleh: Desma H.


Pada selembar daun yang menceritakan tentangmu, perlahan kudengar lagi dari bisik malam yang sunyi. Sepotong rembulan dibawa berlari oleh awan-awan kelabu di langit yang jernih. Dari tatap, hanya bertemu di sudut. Bola matamu telah usang meramu rindu. Sedangkan pada catatan yang berlembar-lembar itu, ada airmata yang belum sempat kusingkap maknanya. Apakah engkau lelah mendamaikan paras yang rapuh? Kau akan temukan jiwanya retak-retak di tepian. Menanti oase yang hanya sebatas cerita. Kembali lagi kutemukan, di sudut. Rautmu nan menyimpan senyum, begitu sedikit. 

Aku,

mendapatimu duduk dalam simpuh yang berlanjut hingga subuh. Mengapa airmata itu terpenjara? Dalam genggaman yang tak ingin kau rentangkan. Dari sini, aku mendamba cerita yang masih kau sembunyikan, di balik senyum menawan. Aduhai, rahasia itu menjelma bintang-bintang di langit. Gemerlap, menculik lamunanku. Bahwa, pada waktu tersebut, bayanganku menurut, menjelajah metafora yang berebut manja, mendekap kerinduan di seteguk diksi yang kau hidangkan dalam secangkir puisi.



Lampung Selatan, 8 Agustus 2025

Sabtu, 03 Agustus 2024

Sebelum Pulang

 



Oleh: Desma H.


"Sering bener kamu pulang. Nggak ngekos aja?"

Ucap petugas tiket di terminal. Aku tersenyum, meskipun mengenakan masker.

"Kalau bisa pulang setiap Sabtu, kan lebih baik."

Jawabku. Beliau mengangguk, sembari mempersilahkan duduk.

Aku memilih kursi di sudut. Lebih luas, dan memang belum banyak yang menunggu. Di sisi kiriku, ada bangku kayu berukuran semester lebih. Ada muda mudi duduk tanpa jarak. Si wanita memakai jilbab. Pakaian yang dikenakan menunjukkan kampus tertentu, ya, tempatku mencari gelar S 1. Si pria begitu dekat ke wajah si wanita. Jemarinya tak lepas dari tangan wanita. Kuabaikan. 

'cetek, cetek'

Sekedar meyakinkan diri, ternyata benar si pria tengah memotong kuku si wanita dengan pemotong kuku kecil. Sembari berbincang tentang anggota keluarga mereka masing-masing. Hmm, apakah baru kenal? Kalau sudah kenal, tentu topik obrolannya bukan lagi hal itu.

"Iih, ga rata loh."

Ucap si wanita manja. Si pria kembali memotong kuku dengan tekun. Perbincangan masih berlanjut. Alamak, suara mereka beradu dengan mesin bus yang mulai dinyalakan. Kalau bisa fokus, tentunya akan kutuliskan juga apa obrolan mereka. Haha!

Gerakan semakin dekat, aduhai sepertinya aku tiada terlihat oleh mereka. Padahal di depanku masih ada seorang penumpang perempuan lagi. Ia lebih tidak peduli. Masih sibuk melihat-lihat hasil jepretan foto diri pada gawai yang ia genggam. Sendalnya besar, hijau muda. Jeans yang dipakai, berumbai pada bagian paling tepi. Kemudian ia makin asyik dengan aplikasi edit foto. Hendak mempercantik hasil foto dirinya. Berarti, ia sadar bahwa ia tidak cantik?

Kembali ke pasangan baru muda mudi tadi, kali ini ada peningkatan. Si pria mulai merangkul si wanita. Wajah mereka begitu dekat. 

Si pria berhasil mengutak-atik gawai si wanita, kemudian memberikannya.

"Huu, tengkyiu."

Asli, manja banget nadanya. Senyumku mengulum, kalau lebih lama duduk di sini, benar-benar mereka akan jadi satu cerpen. Biar kupillihkan nama untuk muda mudi ini. Hmm, Herman dan Wati. Boy dan Jeany? Atau Pur dan Ramini? Karena mereka akan ke Lampung Timur, dan daerah ini lumayan kampung banget.

Bus datang, aku naik. Pak sopir mengangkat barang-barang penumpang. Tetiba ia nyeletuk.

"Ish, kawin lagi dia orang itu!"

Aku melihat ke luar, ternyata si muda mudi tadi yang dikomentari. Hadeh... Ternyata si "Pur" (sebut saja begitu) hanya mengantar "Ramini" sampai terminal. Pur meninggalkan Ramini di bangku bus tepat di depanku. Ketika sendiri, ia tidaklah manja. 

Bus berjalan. Kisah Pur dan Ramini henti.



Terminal Rajabasa, 3 Agustus 2024.


Senin, 01 Juli 2024

Tentang Malam dan Lautan

 




Oleh: Desma H.


Warna yang dilukis terlanjur gelap. Sedikit cahaya memendar. Menaklukkan keraguan dan ketakutan. Dalam kebersamaan yang jernih, suara-suara menerjemahkan makna. Sejauh mana telapak tangan menggerus kenang? Di sana tubuh-tubuh tanpa keluh menghantam letih.


Pada akhirnya, kita kembali terjebak dalam satu teriakan yang tak pernah sampai. Untuk seterusnya, tetap menjadi bisikan yang terpenjara dalam lidah.


Namun, kutemukan binar yang lain dari parasmu di seberang sana. Gemerlap laut memukau. Aku tak ingin melepas pergi malam yang sejenak. Biar kuterjemahkan desau angin yang menghadirkan senyummu nan sedikit. Apakah beban-beban telah mematahkan impian yang kau ramu sekian lama? Ataukah airmata pernah menghapus kenangan indah, sehingga untuk hadirkan tawa begitu sulitnya?


Malam ini, biar kuculik senyummu yang sedikit. Kujaga dalam kenang di tepi ingatan. Kelak bila kurindu kata-katamu, bayangan ini yang akan kudekap.


Pada saat itu, 

apakah masih ada, kita yang sama?



Pahawang, 1 Juli 2024

Sabtu, 23 Desember 2023

Ragam

 




Oleh: Desma H.


Perjalanan yang berkesan. Terimakasih ya Allah. Atas segala rezeki yang banyak dan berlimpah.

Alhamdulillah.


Pahang, 23 Desember 2023.


Jumat, 15 September 2023

Belajar Bersama

 Oleh: Desma H. 


Kegiatan latihan Pramuka selalu menyenangkan. Kemarin, Jumat, 15 September 2023, topik latihan adalah mengenal sandi-sandi. Diantaranya sandi angka, Marengos, dan kurung. Adik-adik mengikuti dengan semangat. Beberapa memang sudah pernah mempelajarinya, namun sebagian besar masih terasa baru mendengar, kecuali sandi angka 1. 


Sembari latihan, aku juga berbincang santai dengan adik-adik. Suasana latihan Pramuka memang dibangun senyaman mungkin. Dan uniknya, regu kami kehadiran sosok istimewa. Ada Kak Zulkarnain HK., S. Ag. Lebih akrab dipanggil Kak Zul. Beliau adalah Kamabisakoda SIT Lampung. 


Beliau sekedar mengamati, karena kebetulan mendapatkan tugas supervisi dari yayasan tempat beliau mengabdi kini. Namun, seiring waktu, adik-adik regu putri mulai membuka obrolan. Karena Kak Zul juga seru diajak berbincang, obrolan pun berlanjut. Mulai dari tebak-tebakan, sampai ke curhat-curhatan. Ya, adik-adik putri kelas 9 Ini benar-benar mudah akrab. Terlebih lagi sebelumnya juga mereka sudah pernah bertemu dengan Kak Zul. 


Obrolan berlanjut, sampai menjelang siang. Adik-adik masih terngiang dengan tebak-tebakan kocak dari teman mereka dan Kak Zul. Selain bermain tebak-tebakan yang kocak, Kak Zul juga memperkenalkan bahwa ada artis bintang iklan yang bersekolah di SMAIT PERMATA BUNDA. Adik-adik penasaran. Langsung Kak Zul menunjukkan video iklannya. Ada rasa kagum di wajah adik-adik putri kami ini. Pas juga mereka sudah kelas 9. Sepertinya SMAIT PERMATA BUNDA bakalan dipertimbangkan untuk jadi sekolah lanjutan. 


Apapun itu, segalanya harus dipertimbangkan dengan baik. Dan, yang tak kalah penting adalah persiapan yang baik pula. Mau masuk SMA pilihan, syarat utamanya adalah... 

Yups, harus lulus SMP dulu. Baru kemudian bisa lanjut SMA. 




Bandarlampung, 17 September 2023





 

Minggu, 03 September 2023

Group WA Penulis

 Oleh: Desma H.



Tergabung di beberapa group WA para penulis menjadikan pikiran beragam. Menambah wawasan, dan pengalaman. Perbincangan di dalam group juga menjadi menarik. Seperti melintasi ruang-ruang diskusi yang dinamis. Sesekali hangat, sesekali ricuh, pernah juga beku. 


Tapi memang perlu berada dalam kotak-kotak ini, agar pandai ambil peran dan membuat kesimpulan. Ada 2 group WA yang sangat kupertimbangkan setahun belakangan. Penulis Indonesia, berisikan para penulis yang juga akademisi. Tingkat pendidikan, ada yang professor juga kalau tak salah. Rerata doctor. Setiap hari selalu ada postingan tulisan, Fiksi atau Non-fiksi. Aku sebagai penikmat. Terkadang mereka posting buku karya terbaru. Info-info calling for papers, berseliweran everyday. Aku belum pernah ikut, hanya sekedar ikut meneruskan pesan, mungkin ada orang lain yang memerlukan informasi. Kata-kata terlontar santun. Sapaan bijak, perkenalan yang meneduhkan. Se-Indonesia terbentang anggotanya, bahkan ada yang stay di luar negeri. 


Group 1 lagi, Dunia Cerita. Beranggotakan orang-orang bebas, kaya karya Sastra. Rerata sastrawan Indonesia mulai dari yang muda sampai sepuh. Dari yang mau belajar, sampai yang sudah master. Profesi, campuran. Pengangguran, ada. Ibu rumah tangga, banyak. Pedagang Mie ayam juga. Guru, dosen, karyawan kantor imigrasi juga ada. Bagaimana dengan perbincangan mereka? Di group ini yang selalu bergelombang. Menimbulkan riak-riak cantik, menggelitik, bahkan mengusik. 


Ada yang sakit saat kritik, pergi tetiba, atau muncul tetiba. Tiada aturan group yang mengikat dan saklek. Tapi uniknya, sekalipun aku tak pernah lihat postingan jualan produk-produk tertentu, Makanan, atau lain hal. Semua obrolannya karya, tips, strategi, bahkan ilmu-ilmu keren diobral di sini. Serasa nyemplung ke kolam ikan yang beragam. Macam apapun ada, tinggal pilih mau memancing yang mana. Begitu sayang jika tak dibaca. Sehingga diluangkan waktu untuk mencecap setiap postingan. 


Tentu, perbincangan menyesuaikan orang-orang di dalamnya. Meskipun damai nian di group pertama, dan terasa komplikasi saat menilik group ke-2, perasaanku tetap terpaut. Terasa sayang jika setiap kata terlewat dari group ini. Seperti setiap penggalnya adalah inspirasi. Sampai pada "ngerasani" tokoh-tokoh sastra hebat yang tak masuk group, sampai membangun misi menggantikan para sastrawan sesepuh yang begitu alot dalam menerima pembaharuan, atau para tokoh yang mendewakan diri sendiri. Ha!

Pada akhirnya, 

sepotong pikiran tetap harus diolah sendiri. Ide yang bertaburan di muka bumi tetap harus dikejar. Dan, menulis adalah proses membahagiakan bagi para penulis itu sendiri. Jika sampai menjadi beban, bisa jadi niat menulisnya sudah keluar jalur. 


Berhalusinasi dalam sekejap menjadi penulis andal tanpa berlatih, sepertinya harus segera bangun dari tidur panjang. Mimpinya kelamaan, tulisan tidak jadi akhirnya. Membaca banyak-banyak juga bisa jadi pemantik. Serap dengan bijak, kemudian sampaikan kembali. Dengan begitu pengetahuan tadi akan tersebar berantai, sampai kepada hati yang benar-benar mengintai.


Lampung Selatan, 3 September 2023

Sabtu, 02 September 2023

Modul Ajar

Oleh: Desma H.


Pada akhirnya aku membuat modul ajar, yang isinya berlembar-lembar. Sedangkan esoknya, di Papan tulis aku menjadi pengkhianat atas rencana yang sudah kubuat. 



Bandarlampung, 3.9.2023

Langkah

 Oleh: Desma H.



Perjalanan panjang menuju sekolah, memakan waktu lebih kurang 60 menit berjalan santai dengan mengendarai motor. Bisa 45 menit, kecepatan agak ngebut sedikit. Tidak bisa ngebut karena jalanan kota padat kendaraan, dan juga penduduk. Sepanjang jalan menuju Kedaung, akan terlihat bukit tinggi menjulang. Masyarakat bilang itu gunung sukma hilang. Dalam perjalanan, gunung akan terlihat jelas berada di sebelah kanan. Jika cuaca berawan, gunung ini raib. Tertutupi. 


Bandarlampung, 3 September 2023

Minggu, 06 Agustus 2023

Sinopsis Drama China: The Longest Promise

 



Oleh: Desma H.


The longest promise adalah drama China yang terdiri dari 40 episode. Dibintangi oleh Xiao Zhan (Shu Ying) dan Ren Min (Zhu Yan). Berkisah tentang perjuangan hidup seorang pangeran (Shu Ying), yang difitnah membunuh. Untuk keselamatannya Sang ibu dan pamannya memalsukan kematiannya, melalui peristiwa kebakaran. Berhasil lolos dari kematian, Shu Ying hidup sebagai petapa di gunung. Tiada disangka, saat semua orang menghujat pangeran, ada satu anak kecil, Zhu Yan,  yang malah mendoakan. Dari sini diawali ramalan-ramalan yang kelak menjadi estafet masalah bagi kehidupan mereka. 

Ternyata Zhu Yan berhasil terpilih menjadi murid dari Shu Ying. Zhu Yan tinggal di Gunung untuk berlatih ilmu sihir. Konflik bermunculan di setiap episodenya. Peramu Konfliknya cukup apik. Meskipun sangat tidak logis. Lagi-lagi film Fiksi. Akan tetapi, ada beberapa hikmah yang bisa diambil dari menonton drama ini. Diantaranya:

1. Apapun itu, berhasil atau tidak tergantung pada kebijakan dan usaha sungguh-sungguh. Sehingga hasilnya seperti apapun, dalam suatu usaha, tidak perlu ada penyelesaian.

2. Jangan percaya ramalan-ramalan. Asalkan ada Kegigihan, maka ramalan buruk bisa dihindari. 

3. Setiap orang memiliki potensi masing-masing. Asalkan ada keyakinan disertai usaha, maka hasil yang dicapai bisa melampaui harapan. 

Acting Xiao Zhan juga bagus. Bisa memainkan banyak karakter, dalam 1 tokoh Shu Ying. Ceria, seperti menunjukkan sosok pangeran yang sebenarnya. Menjadi penyendiri yang kaku, seperti karakter seorang guru, yang harus ada batasan dan menjaga imagenya. Serta monster jahat Dewa penghancur, dengan ekspresi yang cepat berubah saat ia dirasuki. Ide cerita juga bagus. Memancing untuk dilanjutkan ke season 2, karena Kaisar Laut yang masih kecil belum memunculkan kehebatannya, kemudian Shu Ying sendiri harus mati, dan bisa kembali ke dunia sekali dalam setahun untuk penuhi janjinya kepada Zhu Yan.

Drama ini bagus. Kostumnya sopan. Adegan kissing sewajarnya, hanya 2 x. Berpelukan juga sewajarnya. Tapi tetap harus ada pemantauan orang dewasa jika remaja hendak menonton, meskipun saya pribadi tidak merekomendasikan drama ini untuk anak dan remaja. Alurnya halus, sederhana, dan tidak membingungkan. Filmnya tidak membuat jenuh, karena diselipkan juga unsur komedi.


Kedaung, 7 Agustus 2023

15:38 WIB

Jumat, 19 Mei 2023

Bahagia

 Oleh: Desma H.



Kabar itu muncul kemarin. Kabar yang memang telah ditunggu bertahun-tahun. MasyaaAllah, walhamdulillah. Maka kengerian itu muncul. Berbeda dengan beberapa orang yang kutemui, berwajah berbinar, berbalut senyum beruntai. Tubuhku seakan terpenjara. Seperti mengumpulkan ketakutan dalam satu buhul. Kemudian diurai. 

Kamis, 11 Mei 2023

Bertemu

 Oleh: Desma H.



Tuhan, 

Kutunaikan janji temu. 

Setapak rapuhku bertamu di rumah-Mu. 






Madinah Al Munawaroh, 5-8 Maret 2023

Makkah Al Mukharrom, 8-12 Maret 2023


Sinopsis Oath of Love

 Oleh: Desma H.


Diawali dengan pertemuan Lin Zhixiao, seorang musisi celo, dengan Gu Wei, seorang dokter secara kebetulan di sebuah bar. Pertemuan yang berkesan buruk. Kemudian berlanjut di rumah sakit, saat ayah Lin Zhixiao terkena penyakit kanker lambung. Dokter yang membedahnya adalah dr. Gu. 

Berawal dari ketidakpercayaan, setelah saling memahami, Melihat ketulusan dr. Gu dalam merawat Pak Lin, barulah keluarga Lin Zhixiao mengubah paradigma mereka. Ditambah lagi dr. Gu juga sangat bertanggungjawab terhadap para pasiennya. Sangat disukai oleh rekan kerja dan juga para pasien.

Dari perhatian yang timbul, akhirnya muncul juga rasa cinta di antara dr. Gu dan Lin Zhixiao. Bahkan mereka sudah langsung berencana menikah. Namun Konflik Klimak muncul pada saat malam lamaran, dr. Gu mendapatkan masalah besar. Pasiennya belum tersadar seusai operasi. Malangnya operasi yang ia kerjakan, belum ada izin dari pihak keluarga. Pihak keluarga menuntut. Sampai menyebarkan berita di media Sosial. Izin praktik dicabut. Dr. Gu mengalami depresi. Ia dituntut pertanggungjawaban. Ia berusaha menenangkan diri dengan pergi ke desa tempat ia KKN. Acara lamarannya gagal. Padahal mereka juga sudah merencanakan untuk pergi ke Paris. Dr. Gu hendak melanjutkan study, sedangkan Lin Zhixiao hendak bekerja di Perusahaan Musik, bahkan sudah tandatangan kontrak. 

Lin Zhixiao baru mengetahui masalah yang dialami dr. Gu saat beberapa teman dokter Gu menanyakan keberadaan dr. Gu padanya. Dr. Gu sudah menghilang dalam beberapa hari. Tentu saja Lin Zhixiao langsung memahami kemana dr. Gu pergi. Ia mendatangi dr. Gu. Berbicara padanya sembari memarahinya. Di sana dr. Gu tersadar, bahwa langkah yang diambilnya sebenarnya hanya untuk dirinya sendiri, namun menyulitkan orang lain. 

Dr. Gu Wei kembali ke rumah sakit. Untuk membantu Tim investigasi. Menyiapkan berkas-berkas yang diperlukan. Di saat bersamaan, pasien yang menjadi awal permasalahan ini mengalami situasi yang darurat, sehingga memerlukan tindakan operasi. Dr. Gu diminta kembali mengoperasi pasien. 

Singkat cerita, operasi berhasil. Tuntutan dicabut. Lin Zhixiao pu menyadari, bahwa keputusannya berangkat ke Jerman adalah salah. Karena ia berangkat, namun hatinya tertinggal di dr. Gu. Maka ia memutuskan untuk tetap tinggal. Kondisi Pak Lin semakin memburuk. Akhirnya dr. Gu segera membawa keluarga Lin Zhixiao menemui orang tuanya. Meskipun ada penolakan di awal, dengan bahasa yang halus, tapi di akhir, orang tua dr. Gu menerima juga. 

Semua permasalahan terselesaikan di dua episode terakhir. Drama ini bagus, Romansa namun tidak berlebihan. Tidak perlu adegan ciuman yang dipaksakan. Malah justru sangat santun, dengan membatasi. Sederhana, rasa suka yang ditunjukkan dengan cukup saling memberi perhatian. 

Begitu juga dengan pesan-pesan keluarga yang dibangun dari drama ini, sangat biasa, dan memang begitulah yang terjadi seringkali dalam kehidupan. Inti yang terpenting tetaplah: saling percaya. 

Pesan terbaik yang sangat lekat dari drama ini yang relevan dalam kehidupan kita ada juga yang sangat menohok. 
" Jangan lupa tujuan awal."
Seperti kita dalam Islam, kembali lagi pada niatnya. 

Kalau dari segi pengetahuan Ilmu kedokterannya, menurut saya tidak seberapa disajikan dalam drama ini. Hanya menampilkan seorang dokter yang sibuk dengan operasi-operasinya. Hebatnya, tidak ada ambruknya dokter ini. Padahal kerja terus, belajar terus. 

Jalan ceritanya sederhana. Konfliknya juga sederhana. Kisah persahabatannya juga saling terkait, seolah senasib sepenanggungan. Satu apes, semua sahabatnya juga ada masalah. Solusi yang dihadirkan, bersenang-senang. Ya, begitulah. Cerminan masyarakat di sana. 

Kita harus pandai memetik hikmah dari setiap tontonan. Karena kurikulum kehidupan yang terbaik sebenarnya sudah disiapkan dalam agama kita. 



Bandarlampung, 
Jumat, 12 Mei 2023
Kedaung. 


Kamis, 01 Desember 2022

Ipin Upin

 Oleh: Desma H.




Kamis kemarin aku mengawas Ujian Akhir Semester di kelas 9 Raden Inten. Kuulas sedikit, karena memang ada hal unik terjadi di kelas ini. Pertama masuk, sorak sorai dari seisi kelas mewarna. Seperti biasa kulemparkan senyum pada mereka, meskipun tertutup masker. Masuk kelas ini bawaannya ingin tertawa saja. Mereka sudah kelas 9, tapi kelakuannya masih ya.. benar-benar kekanak-kanakan. 

Kemudian kulambaikan tangan ke arah CCTV. Biasanya ada yang memantau dari pusat rekaman CCTV. Keren juga kan kalau dilihat begitu, serasa artis. 

Iqbal masuk kelas dengan melambaikan tangan padaku. "Hai." Ucapnya. Kuanggukkan kepala sembari membalas lambaian tangannya, "Hai juga." Nah, hal unik semakin terlihat. Ada beberapa anak yang botak. Aduhai lucu, sembari menunduk-nunduk. Aku belum mau mulai bertanya. Biasanya malu mereka. Pastilah itu kena hukum. Lumayan berat kesalahan. Tapi, makin terlihat sholeh, karena ditutupi oleh peci. Dan nampak seperti tentara muda yang baru masuk pendidikan. Haha... 

"Kalian ini... Tempo hari Ms. Des tinggal naik Gunung, si Ridho jadi ikan. Kemarin baru ditinggal sehari saja, sudah pada jadi biksu. Oh em ji..." 

Akhirnya cerita demi cerita bertalian. Mereka bersuara bertumpuk-tumpuk. Dapatlah ditarik kesimpulan. Meskipun kemarinnya aku tak masuk sekolah, masih bisa tetap ikuti perkembangan kejadian di sekolah melalui group WA. Ada pelanggaran yang mereka lakukan rupanya. 

Kulirik sedikit-sedikit wajah para pelaku. Ternyata mereka makin lucu. Uniknya, raut sedih tidak ada. Malah mereka tetap terlihat bergembira, tapi tak tahu di kedalaman hatinya. Ketika mereka mengumpulkan lembar jawaban, kuambil secuplik wajah mereka. Sebelumnya mereka adalah anak-anak yang manis. Sekarang, Sepertinya semakin manis. Haha... 



Bandarlampung, 2 Desember 2022

Rabu, 30 November 2022

Janji

 Oleh: Desma H.



Telah tunai janji padamu, Ayahku. 




Anak kecilmu selesaikan tugasnya di sepuluh tahun mendekap gelar mahasiswa. Dulu kita antarkan di gerbang Unila, bergantung gelar calon dokter di lehernya. Kini, kita lepas ia di patahan lempeng yang benar-benar memautkan kembali hati nan patah dengan cita-citanya. Gelar perawat pun diikatkan pada tangannya yang rapuh.



Aduhai, Ayahnda. Betapa damai wajah Emak saat melangkah ke depan. Anak kecilmu kembali membawa kebanggaan untuk bidadari yang tegar itu. Digiringnya menuju sorak sorai peraih label mahasiswa terbaik pertama. Yaa... Robbana. Betapa air mata menjadi teman pelerai luka-luka. 



Ayahku, 

Kita antarkan di sana, kemudian kita sambut di tempat berbeda. Namun, tekad membaja telah dipancangkan. Dunia kesehatan menjadi pilihan baktinya. Lihat, betapa rasa bahagia terbungkus sempurna pada gumpalan senyum dan haru air mata. 




Bandarlampung, Wisuda Akper Baitul Hikmah dan Akper Bunda Delima 

Rabu, 30 November 2022

TERIMAKASIH TELAH SINGGAH

Perjalanan hidup manusia berputar seperti roda. Suatu saat akan berhenti, bila telah tiba di tujuan. Namun, adakalanya roda itupun berhenti karena hambatan. Hidup beserta masalah adalah lumrah. Memang demikian adanya. Hidup tanpa masalah mungkin juga ada. Akan tetapi, itulah masalahnya, mengapa bisa tidak ada masalah? Normalkah?

Maka kembali pada bagaimana kita menyikapi. Terbelit dalam kerumitan, pikirkanlah solusi; bukan kesulitannya. Karena hal ini akan menjelma beban.

Serahkan pada sang Penguasa semesta, karena Allah swt maha berkehendak. Entah bagaimana penyelesaiannya, terkadang tak pernah sedikitpun terbayang dalam pikiran. Lantas untuk apa lagi ragu? Bila tak sanggup membina diri, bersama iman dan taqwa padaNya, tunggulah kebinasaan itu dari jalan yang tak disangka -sangka.




Yang Akan Dibanggakan

Yang Akan Dibanggakan
Menara Siger Lampung