Tampilkan postingan dengan label Catatan PPG. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Catatan PPG. Tampilkan semua postingan

Selasa, 18 Januari 2022

Mobil





Oleh: Desma H.



Kali ini aku menceritakan keponakan kecilku yang berusia 3 tahun. Ia memiliki sebutan khusus untuk benda-benda tertentu. Meskipun orangtuanya sudah mengajarkan dengan yang sebenarnya. 

Mobil: ino

Keong: engkong

Cokelat: engkiok

Pedas: huhah

Kakak: akak

Bunda: ina

HP: ipi

Kamus baru yang lucu. Sempat terlintasi, jangan-jangan ini bahasa suatu negara atau suatu sukunya tertentu, yang memang aku tidak tahu. Dan ini adalah satu ino nya yang terbawa olehku sampai ke sekolah. 

Selasa, 03 November 2020

Terimakasih Teknologi

 



Oleh: Desma H.



Baru kemarin mengenal, terekam baik dalam ingatan. Sangat berkesan. Dosen yang membimbing dengan balutan semangat. Selalu memotivasi. Membawa suasana perkuliahan jadi menyenangkan, tidak terbeban. Seperti menyulut kegembiraan tersendiri di hati mahasiswa. 


Oh, berpulangnya beliau menjadi pengingat. Bahwa tentang umur, selalu jadi misteri, dan tak bisa kita siasati. Malam harinya seorang teman mengirimkan video rekaman, ketika perkuliahan daring. Makin mencipta tangis haru di antara kami. Semua icon air mata dimunculkan. Begitulah, akhirnya kami kembali sesak, dengan perpisahan.


Sebagaimana takdir dijalani, maka ikhlaskan kepergian, tinggal kita memperpanjang kebaikan dari yang telah berpulang. Sesungguhnya di sanalah estafet peradaban dititipkan.


Semoga Allah memberikan tempat terbaik, untuk almarhumah. Kemudian aku teringat, kepada sosok-sosok yang kucinta. Dunia..oh, dunia. Terimakasih teknologi, pencatat kenangan.




Era corona. 04.11.2020

Selasa, 27 Oktober 2020

Sarjana Webinar

 



Oleh: Desma H., S. Pd.


Mengikuti perkembangan zaman yang makin menggila, tingkat stres meninggi. Dalam lingkup yang itu-itu saja, manusia tetap dituntut menjadi kreatif. Komunitas yang berpikir dan berkembang. Setelah manusia resmi "dikandangkan", maaf istilah yang mubazir untuk disebutkan, tapi memang demikian adanya.


Hanya kepintaran dan kebadungan para manusia, sehingga istilahnya digeser sedikit menjadi "karatina". So, what did we get after joining this quaratine? Bagi manusia rebahan, mungkin bisa melihat, berapa luas pulau yang dicipta pada bantal penyangga kepala. Bagi kaum sleeping beauty lovers, mungkin bisa merangkum berapa banyak impian yang digagas, tapi mencapainya entah kapan.


Nah, bagiku sendiri. Kaum pemburu webinar, haha! Berapa lembar sertifikat yang sudah kuunduh? Padahal, sejatinya aku suka sekali ikut webinar dalam rangka take the knowledge. Karena tak sembarang webinar yang kuikuti. Dan, Tuhan takdirkan semua berdasarkan niat kita, Teman. Dari sekian banyak webinar yang kuikuti, mungkin sertifikat yang kudapat hanya 1 sampai 2. Wadidawwww! 


Tapi, dari hati yang paling dalam, aku menyulut semangat. Ada new insight yang kudapat. Lihat saja nanti. I will break the limit. I will not stay in the cage. I will fly and fly. Webinar internasional tentang pendidikan adalah yang terkenang. Dengan logat india para pemateri menyampaikan topik. Kepala geleng-geleng, seperti aktor pada film india biasanya. Uniknya meskipun lewat zoom, para peserta tidak ditampilkan. Aduhai, hanya bisa melihat para pemateri rupanya. Padahal aktivitas iseng dengan rasa ingin tahu yang full, mengintai penampakan peserta lain adalah peristiwa yang bisa dilakukan sebagai obat garing. Tak apalah, hikmahnya aku membuat obrolan sendiri di group WA dengan teman-teman satu kampus terkait webinar itu.


Obrolan beragam, mulai dari Sahrukh Khan, sampai ke Mohabbatein. Mengomentari pelafalan bahasa inggris mereka, sampai gesture. Bagaimana dengan materi webinar? Tidak kami bahas. Mendekati penutupan, seperti biasa masih ada harapan wajah peserta semua muncul, kemudian foto bersama. Tapi kemudian blup, zoom diakhiri. Olala...tanpa kata pisah, kami tercampakkan. 

"Sudah, gitu aja?"

"Terus, sertifikatnya gimana?"

"Kok tahu-tahu dimatiin zoomnya."

"Haha!"

Kami membanjiri group WA dengan tawa. Untuk ke depannya, mengikuti webinar internasional harus lebih teliti lagi. 


Lampung Selatan, 28.10.2020

Kamis, 15 Oktober 2020

Webinar

Ini bukan penjelasan tentang webinar, Kawan. Hanya ungkapan keluwesan perilaku seorang aku terhadap tiga webinar hari ini. Dalam waktu bersamaan harus kugerayangi materinya.

Webinar nasional sastra dari dinas perpustakaan kota Riau, kuposisikan di laptop. Aman, karena ini yang harus kuseriusi. Webinar ke dua, internasional. Dari SEAMEO. Pembelajaran daring di era pandemi. Keren bahasannya. Memperhatikan aksen dari negara non Inggris, pronunciationnya lebih mudah ditangkap. Webinar ke 3, tentang pembuatan proposal penelitian agar sukses mendapat pembiayaan dari lembaga tertentu, Universitas Abdurachman Situbondo, melalui zoom. Webinar 3 dan 3, akses lewat HP. Kalau kondisi seperti ini, ingin sekali mempunyai laptop satu lagi.


Akhirnya kondisi menggelikan ini membawa dampak. HP ku lemota tralala. Laptop panas, karena beraktivitas berjam-jam. Kepalaku sakit. Malam, dapat tugas materi BPI. Tugas Liksitera, tema Pemuda. Karena deadline Cinderela, maka kudahulukan satu tugas BPI, Liksitera, baru BPI part 2.


Allahu akbar, alhamdulillah, puisiku rampung juga. Setelah ditunggui oleh pak pj. Menu kecil, yang juga merupakan Ketum FLP Sumsel. Uniknya lagi, menit terakhir sebelum pengumpulan, beliau tak muncul. Mungkin sudah tertidur. Waktu cinderela, yang masih berjaga ya hanya Cinderela dan pangerannya. Kemudian berkejaran dengan waktu, tertinggalah sepatu kaca. Cling, cinde raib. Sepatu jadi benda keramat yang dirindukan oleh pangeran tampan dari negeri suka-suka.


Padahal tadi siang, ada bincang khusus dengan sobatku yang hobinya menguliti buku. Cinderela sebenarnya kisah nyata, sepatunya ada tersimpan di museum di sana lah. Namun, beredar di masyarakat, kisahnya juga bertambah bumbu.


Back to my three amazing webinar. Kemarin ikut international webinar from India university. Lebih dramatis lagi. Nggak ada closing statement. Tahu-tahu salam penutup, terus mati zoomnya. Kami, Peserta dari Indonesia, bingung. Kemudian tertawa. Sudah-sudahlah, besok lagi harus dicermati.



Cordova, era suka-suka.

Kanjuruhan





Kampus yang belum pernah kupijak, namun sudah hampir dekati akhir. Sepertinya itu doa kami semua, mahasiswa PPG yang sudah mabuk dengan serentet modul dan tugas. Menyelesaikan tagihan yang harus diunggah hingga waktu Cinderela. 


Pernah suatu ketika, karena lelah bertaut di badan. Selepas sholat Isya, kubaringkan kepala di bantal yang sudah bertumpuk. Tak berniat tidur. Namun kuasa Allah, sampai juga raga memejamkan mata dan terjaga di pukul 23:30 WIB. Batas waktu pengumpulan adalah 00.00 WIB. Belum lagi proses masuk ke LMS, memerlukan 30 menit.


Lekas terjaga, sembari beristighfar. Hati gusar, namun ada di sisi lain mencoba menenangkan.

"Yanti, ini hanya urusan dunia."

Kamudian kembali damai. Tetap kukerjakan tugas yang harus dikumpul. Aku harus turun ke ruang tamu, untuk mengerjakannya. Laptop masih berada di sana, bersama tumpukan buku-buku.


Malam sudah hening. Berjibaku dengan kata ditambah gelisah di dada, tentunya membuat pikiran makin semrawut. Dengan sangat terpaksa, kukirimkan pesan wa kepada dosen pembimbing. Diawali permohonan maaf, sampai pengakuan dosa bahwa badan memang kelelahan, kemudian ketiduran, dan baru terjaga di waktu nyaris dekati batas. Hingga berjanji takkan ulangi. Tentu pesan itu tak dibalas. Dibaca pun tidak. Kebanyakan golongan nanusia masih melilit mimpi pada jam tersebut. Kisaran setengah tiga mungkin baru terjaga.


Tugas selesai dikerjakan pukul 01.00 WIB. Kuunggah tugas dan selesai setengah jam kemudian. Segera kuberingkas, dan kembali ke kamar, di lantai 2. Melihat langit terbentang, berselimut kelabu tipis, gemintang sembunyi. Aduhai, perasaanku berkecamuk. Apa daya terkait tugas. Sudah kuusahakan. Pasti Allah juga punya alasan, menakdirkanku tertidur di kala teman-teman lain masih bergerilya mengerjakan tugas.


Kuintip percakapan di group wa. Beberapa jam yang lalu semua ramai berbincang tentang tugas. Tentu aku masih berkawan lelah dan berada di dunia entah. 


Menjelang subuh, wa terbalas. Beliau menyampaikan tugas bisa dikumpul pagi hari. Lega sekali, ada permakluman. Namun segera kujawab, bahwa telah kukumpulkan tugas sekitar pukul setengah dua tadi. Menyampaikan terimakasih. Selesai. 




Cordova, era corona, PPG Unikama.

September-Oktober 2020

TERIMAKASIH TELAH SINGGAH

Perjalanan hidup manusia berputar seperti roda. Suatu saat akan berhenti, bila telah tiba di tujuan. Namun, adakalanya roda itupun berhenti karena hambatan. Hidup beserta masalah adalah lumrah. Memang demikian adanya. Hidup tanpa masalah mungkin juga ada. Akan tetapi, itulah masalahnya, mengapa bisa tidak ada masalah? Normalkah?

Maka kembali pada bagaimana kita menyikapi. Terbelit dalam kerumitan, pikirkanlah solusi; bukan kesulitannya. Karena hal ini akan menjelma beban.

Serahkan pada sang Penguasa semesta, karena Allah swt maha berkehendak. Entah bagaimana penyelesaiannya, terkadang tak pernah sedikitpun terbayang dalam pikiran. Lantas untuk apa lagi ragu? Bila tak sanggup membina diri, bersama iman dan taqwa padaNya, tunggulah kebinasaan itu dari jalan yang tak disangka -sangka.




Yang Akan Dibanggakan

Yang Akan Dibanggakan
Menara Siger Lampung