Tampilkan postingan dengan label renungan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label renungan. Tampilkan semua postingan

Selasa, 04 Agustus 2020

Beirut, Lebanon

Oleh: Desma H.


Bertebaranlah jasad, berhamburan ruh,
langit masih gelap, badan hilang kawan,
menemukan darah pada tubuh yang sirna senyum,
berai hidup. lunglai kerangka.
masih bertanya?
ini apa? segera bangun, semoga mimpi.
belum kiamat, tapi sudah dekat.
seberat apa persiapan?
menengok sekeliling,
masih gelap, berkabut, napas sesak.




04.08.2020
05.08.2020


Ada rahasia di balik ini. Peristiwa bertahun lalu. Jika dihubungkan, bisa bertemu. Misteri langit. Kuasa Tuhan.
Kita, hanya pejalan, yang berebut dengan bayangan.

Minggu, 12 Juli 2020

Kita

Oleh: Desma H.


Sahabat, aku ingin sampaikan tentang ruang yang ada antara kita. Dengan bahasa yang biasa. Tiada ingin menutupi, tak pula menyampaikan secara benderang. Intinya, berkata nyata saja.

Aku baru ingat, tentang usia yang sudah hampir setengah abad. Batasnya sampai mana, tak tahu pula. Tuhan begitu cantik sembunyikan rahasia ini. Tahu-tahu nanti, pergi. Dikenang sejenak, ditangisi, kemudian dilupakan. Benar? Semoga kita tidak demikian.

Ini adalah dinding rumah, yang berhak dicat seperti apa. Jika kelak kau temukan dan baca, entah aku sudah menjadi apa. Namun, semoga kebaikan, selalu terjadi untukmu, untukku, untuk kita.

Pada waktu tertentu,
aku merasa seseorang begitu aku. Hingga terpacu untuk mengenal, menyuka, dan mendamba. Tapi, pada Tuhan saja kusampaikan. Waktu berjalan, bertahun-tahun, tabiatku sama. Sedangkan mereka telah mengawali kehidupan baru yang punya kisah beragam. Aku, tetap berkelana, sembari memilihkan sosok yang begitu aku.

Dan, hari ini. Aku benar-benar sadar. Terlalu jauh sudah. Hingga aku lupa diri. Aku memutuskan untuk berhenti.

Aku menitipkan pesan padamu, jangan terlalu jauh berjalan. Tentukan dulu tujuan, sehingga kau tahu, di mana kelak berlabuh. Teruslah, hingga terwujud.

Sampai sini, 
kutandai, pemberhentian ini.


Sahabat, semoga kebaikan untuk kita semua. Aamiin...

Senin, 01 April 2019

Catatan Akhir






Bonsoir, Ri?

Terimakasih untuk kebersamaan kita. Kau mengingatkanku terlalu banyak.






Bandarlampung, 1 April 2019

Senin, 07 Januari 2019

Nilai




Apa pekerjaanmu, Teman? Wah, membuat jawaban untuk pertanyaan ini pasti mengorek rahasia pribadi. Tapi, tenanglah. Tidak ada pekerjaan yang menjadi aib, karena setiap diri memiliki alasan. Nah, kalau sudah memungut alasan kemudian diletakkan di balik pekerjaan kita, tentu sang penanya tadi dituntut untuk menerima dengan bijak. Pencuri, alasannya kebutuhan hidup. Tuntutan keadaan, dan lain sebagainya. Menteri, mengurus negara, kepentingan publik. Lelah, jadi perlu liburan sekian dan sekian. Gaji, sekian dan sekian, wajar dong. Menjadi rumit, bukan? Tak akan habis pembahasan seperti ini. namun, kita sebagai manusia haruslah bijak dalam mencari jalan tengah. Toh sebenarnya, kita tidak semuanya bersinggungan. Lebih sering memiliki jalan tersendiri.

Kembali pada inti awal. Nilai. Apapun pekerjaan kita yang paling penting adalah, nilai apa yang kita miliki dari rutinitas pekerjaan itu. Nilai apa yang bisa kita tebarkan kepada masyarakat, dari pekerjaan kita. Dengan tidak memperhatikan gaji yang kita terima, atau bahkan pengeluaran apa yang kita luncurkan. Karena sering terjadi, pekerjaan yang begitu mewah menurut kita, tapi gaji masih minim. Nah, kalau sudah membahas gaji, akan melebar lagi.

Nilai apa yang sudah kita hadirkan? Hanya kita yang bisa menuliskan jawabannya.

Jumat, 28 Oktober 2016

Guru yang Tak Dirindukan



“ Terimakasih, Ms. Ita. Miss Ita adalah orang yang selalu tersenyum sama saya.”
Dzika, siswa putra kelas 7, yang menuliskan kalimat tersebut di selembar kertas. Ms. Ita tersenyum membacanya.

“ Ana memang senyum sama siapa saja yang datang ke perpustakaan.”
Ucap Ms. Ita setelah membacanya. Beliau adalah penanggungjawab perpustakaan dan guru Bahasa Inggris di sekolah tempat kumengajar. Bukan tanpa alasan Dzika menuliskan kalimat itu. Ms. Ita berhasil menjadi pembeda dalam kenangannya. Hingga ia tuangkan dalam kalimat yang jujur. Meskipun sebenarnya, Dzika adalah sama dengan pengunjung perpustakaan lain yang mendapatkan senyum tulus dari Ms. Ita. Atau bisa jadi, Ms. Ita juga menganggap Dzika sama dengan yang lainnya. Namun bagi Dzika, Ms. Ita sudah mendapatkan tempat khusus.

Wahai para teladan, tidakkah ingin suatu ketika nama kita disebut atau diingat oleh mereka? Saat ia menceritakan ke teman, orang tua, atau anak cucu kelak. Bukan sebatas disebut atau ditulis, namun bagaimana kita diingat. Apakah karena: baik, buruk; karena senyuman, kata – kata, dan doa; karena hukuman, omelan, perilaku, atau karena fisik. Oh, betapa banyaknya. Sungguh kita punya catatan. Kelak, mereka akan menceritakan kembali apa yang terekam. Sesaat akan tumbuh kerinduan. Sesuai dengan catatan tentang kita di benak mereka. 

Selamat mengukir kenangan di batas - batas ingatan anak didik kita. Maka kita pula penentu jabatan: Apakah termasuk guru yang dirindukan, atau sebaliknya.


Bandarlampung, 22 januari 2016

Kamis, 27 Oktober 2011

tentang tahu

semakin banyak mencari tahu, semakin tahu aku, bahwa aku belum banyak tahu.

Jumat, 23 April 2010

Embun

Sesungguhnya, mendengarkan teguran, nasihat, maupun kritik itu adalah pahit. Tapi, keberadaannya seperti seseorang memakan obat yang tidak enak. Sedangkan manfaatnya adalah pelurusan dan keinsyafan.

(Beginilah Jalan Dakwah Mengajarkan kami: 118)

TERIMAKASIH TELAH SINGGAH

Perjalanan hidup manusia berputar seperti roda. Suatu saat akan berhenti, bila telah tiba di tujuan. Namun, adakalanya roda itupun berhenti karena hambatan. Hidup beserta masalah adalah lumrah. Memang demikian adanya. Hidup tanpa masalah mungkin juga ada. Akan tetapi, itulah masalahnya, mengapa bisa tidak ada masalah? Normalkah?

Maka kembali pada bagaimana kita menyikapi. Terbelit dalam kerumitan, pikirkanlah solusi; bukan kesulitannya. Karena hal ini akan menjelma beban.

Serahkan pada sang Penguasa semesta, karena Allah swt maha berkehendak. Entah bagaimana penyelesaiannya, terkadang tak pernah sedikitpun terbayang dalam pikiran. Lantas untuk apa lagi ragu? Bila tak sanggup membina diri, bersama iman dan taqwa padaNya, tunggulah kebinasaan itu dari jalan yang tak disangka -sangka.




Yang Akan Dibanggakan

Yang Akan Dibanggakan
Menara Siger Lampung