Selasa, 25 April 2017

Heroine






Judul                     : Heroine
Sutradara              : Tsutomu Hanabusa
Pemain                 : Kento Yamazaki, Kentaro Sakaguchi, Mirei Kiritani
Tahun produksi     : 2014

Film yang bertema remaja memang biasanya disajikan ringan. Apalagi kalau bahasannya sudah cinta. Alamak, ujung - ujungnya kalau tidak putus, ya jadi. Kemudian cinta segitiga, segi empat, segi lima, atau malah banyak segi. Itulah  keunikan dunia remaja. Begitu juga di film ini: Cinta yang sederhana, konflik yang cepat. Resolusi nan tiba - tiba. Sesuai sekali dengan jiwa remaja yang labil dan belum konsisiten dalam menghadapi kehidupan.

Hikmah dari film ini, yang berhasil saya tangkap adalah:
·         Teguhlah dalam mencintai.
·         Seseorang akan menjadi berarti ketika ia dibutuhkan oleh orang lain.
·         Jangan memperturutkan emosi, karena bisa mengorbankan orang lain dan juga perasaan kita ke depannya.
·         Komunikasi sangat diperlukan, agar tidak terjadi kesalahpahaman.
·         Pahamilah teman kita dengan sebaik – baiknya, agar persahabatan itu langgeng. Karena bisa saja terjadi, ada hal kecil yang malah tidak dapat dipahami oleh teman terbaik atau teman terlama sekalipun. Dan ini dapat menjadi pemicu konflik.

Rita dan Hatori berteman sejak kecil. Hatori seolah menjadi pelindung Rita. Selalu bersama. Rita ditinggalkan oleh orangtuanya. Kalau dilihat dari namanya, Rita adalah seorang perempuan. Namun ini tidak. Rita adalah laki - laki, dan Hatori adalah perempuan. Perbedaan kebudayaan jika berbeda negara. Dalam hal nama juga ditemukan. Mereka bersahabat, saling mendukung. Hatori adalah heroine bagi Rita, begitu Hatori melabeli dirinya. Bagaimana konflik dimulai? Ketika Adachi muncul. Seorang teman satu sekolah, yang biasa saja dari segi penampilan. Ketika mendapat perlakuan kurang baik dari teman – temannya seaktu di kantin, Rita membela. Adachi merasa spesial mendapatkan perlakuan itu dari Rita. Meskipun awalnya Rita biasa saja. perlahan, Hatori mulai tersisih. Bahkan sudah jarang berbincang, atau pulang bersama dari sekolah. Hatori merasa sedih, namun ia tetap berusaha menjaga perasaannya. Agar tidak terlalu mencolok di hadapan Rita dan juga Adachi.

Konflik bertambah ketika muncul seorang laki - laki yang juga menyukai Hatori. Meskipun berat melupakan Rita, tapi Hatori berusaha juga dengan akhirnya menerima laki - laki tersebut. Namun, perasaan Hatori tetaplah tak bisa sebahagia ketika ia bersama Rita. Hingga akhirnya terkuaklah, rahasia Adachi. Ia berpura - pura sakit selama ini agar mendapatkan perhatian dari Rita. Sedangkan bagi Rita, ia mereasa bahagia ketika ia dibutuhkan oleh Adachi. 

Sebelum ending cerita Rita menemui Adachi dan meminta mengakhiri hubungan mereka, karena sesungguhnya sosok yang sangat berarti di hatinya hanyalah Hatori sedari dulu dan tidak berubah. Di waktu yang sama di tempat yang berlainan, Hatori juga tengah bersama kekasih barunya. Ia juga mengatakan bahwa hanya Ritalah yang ada di hatinya sedari dulu. Ya, begitulah ceritanya. Sederhana sekali. Kemuadian Rita dan Hatori bertemu kembali. Mereka mengakui perasaan masing - masing. Bersama lagi. Senyum dan keceriaan muncul seperti dahulu.

24 April 2017




TERIMAKASIH TELAH SINGGAH

perjalanan hidup manusia berputar seperti roda. suatu saat akan berhenti, bila telah tiba di tujuan. namun, adakalanya roda itupun berhenti karena hambatan - hambatan. hidup beserta masalah adalah lumrah.memang demikian adanya. hidup tanpa masalah mungkin juga ada. akan tetapi, itulah masalahnya, mengapa bisa tidak ada masalah? normalkah?

maka kembali pada bagaimana kita menyikapi. terbelit dalam masalah, pikirkanlah solusi; bukan kesulitannya. karena akan membebani kita.

serahkan pada sang Penguasa semesta, karena Allah swt maha berkehendak. entah bagaimana penyelesaiannya, terkadang tak pernah sedikitpun terbayang dalam pikiran kita. lantas untuk apa lagi ragu? bila tak sanggup membina diri kita, bersama iman dan taqwa padaNya, tunggulah kebinasaan itu dari jalan yang tak disangka -sangka.




Yang Akan Kita Tinggalkan

Yang Akan Kita Tinggalkan
Di Kelok itu, beberapa puluh tahun silam, raga ini sempat melintasi. Untuk kemudian, kepada Tuhan saja berbincang dan berencana. Adakah nafas untuk sampai di sana?