Selasa, 01 Agustus 2017

Nangkring Bersama BkkbN



Dengan Hari Keluarga Nasional Kita Bangun Karakter Bangsa Melalui Keluarga yang Berketahanan
Lampung, 13 Juli 2017




Aku sengaja memakai judul di atas, agar tetap mengingatkanku bahwa ini adalah kegiatan resmi. Hmm.. memang bagaimana kegiatan yang tidak resmi? Jadi begini teman - teman, aku sangat menyukai menghadiri seminar atau pelatihan. Biasanya tentang pendidikan dan kepenulisan. Edisi hari ini adalah pengkhususan. Lihatlah judulny, agak berbeda dengan aliranku, bukan? Tepat sekali. Mengapa akhirnya aku bisa terlibat di aktivitas ini?

Hal ini bermula ketika aku pulang kampung ke Padang. Adik sepupuku yang bekerja di BkkbN, Dinil Fauzia namanya, mendapatkan tugas untuk ikut serta kegiatan yang diadakan oleh BkkbN untuk peringatan Hari Keluarga Nasional. Sejujurnya, aku kurang perhatian dengan agenda seperti ini. Jika terkait sastra atau DuPen (Dunia Pendidikan) biasanya aku akan melincah ke sana. Tapi, ini adalah edisi spesial. Niatku awalnya adalah berjumpa kembali dengan adik sepupukku. Dia juga hendak ke Lampung Timur, untuk bertemu dengan keluarga besar di sana. Tentu aku sudah menyiapkan eaktu dan juga beragam persiapan. Terkait transportasi dan penyambutan lainnya. Maklum, adikku ini sudah puluhan tahun tak ke Lampung Timur. Melewati saja yang sering. Ia tinggal di Sulawesi. Bertugas di sana.

Maka sampailah di hari yang ditentukan. Sungguh di luar dugaan, Dinil tidak jadi ke Lampung. Karena ia sudah kebanyakan cuti ketika Idul Fitri, maka tugas ke Lampung dialihkan ke rekan kerja yang lain. Baiklah, tidak mengapa. Semoga kami masih bisa bersua di lain kesempatan. Aamiin… aku tetap berangkat e Hotel Horison siang itu. Setelah mutar - mutar mengikuti jalur angkot, tentu saja memakan waktu yang lama, sampai juga aku di sana. 

Acara sudah dimulai. Pembicara sudah menyampaikan materi. Teman - teman dari Tapis Blogger sudah memadati kursi. Mereka mulai berkesibukan. Memainkan senjata ampuh, smart phone. Mereka diundang untuk menyemarakkan acara hari ini. menebarkan informasi terkait kegiatan Harganas. Aku, terlibat di dalamnya. Sibuk memotret, memposting, potret lagi, posting lagi. Kuota? Tak ada masalah. Difasilitasi wifi yang lancar jaya dari Horison. Maka tak ada kendala teknis, Alhamdulillah…

Acara yang dihadiri 10 Club fotografi, 30 Pusat informasi kesehatan Remaja, juga 50 orang dari komunitas blogger ini menjadi kesibukan yang menggembirakan. Ada lomba tweetpic juga. Kau bisa bayangkan Teman, betapa sibuknya peserta di sini. Mendengarkan pembicara, juga mengikuti kompetisi di tempat. Sepertinya kami adalah makhluk luar biasa kala itu. Hasilnya tentu mencengangkan. Informasi di dapat, juga kesempatan menjadi pemenang. Tapi ada satu hal yang sungguh menohok ketika itu. Pemateri menyiarkan tentang kedekatan keluarga. Bahwa hal yang terpenting adalah keluarga. Nilai dalam keluarga adalah yang tertinggi dibanding gadged. Beliau Deputi KSPK, Ibu Ambar Rahayu, M. M., juga menegaskan tentang perilaku beberapa peserta yang sejak tadi hanya sibuk memegang gadged. Sedikit sekali interaksi dengan teman di sampingnya. Aku mendongak. Benar juga. Tapi, kami dalam tugas, Bu. Ingin sampaikan demikian. Namun tak jadi masalah bagiku. Aku hentikan menggunakan smart phone. Ingin fokus mendengarkan pemaparan beliau.

Intinya tentu saja, harus ada perencanaan dalam keluarga. Termasuk dalam kelahiran bayi. Penekanannya adalah dua anak cukup. Agar pembiayaan untuk menghidupi kebutuhan anak tercukupi. Oke, namanya juga pemaparan demikian, disajikan pada banyak orang tentu ada yang pro dan kontra. Bagaimana denganmu? Aku tergelitik dengan pernyataan temanku: iya, dua anak cukup. Dua anak laki - laki dan dua anak perempuan. Hmm… bagus juga. Terus ada lagi: Dua anak awalnya, selanjutnya terserah anda. Ini juga bagus. Bagaimana pendapat ini: Banyak anak, banyak rezeki? Ada juga benarnya. Sebagai manusia yang selalu bergejolak, yang paling penting adalah pendewasaan diri. Dengan dewasanya diri, tentu bijak pula pemahaman. So, tak perlu mencemaskan perihal ini. Mereka sudah punya pengaturan yang baik dalam keluarga masing - masing. Jika masih ada yang berantakan dalam mengatur rumah tangga, maka sesungguhnya mereka belum dewasa.


#Harganas

TERIMAKASIH TELAH SINGGAH

perjalanan hidup manusia berputar seperti roda. suatu saat akan berhenti, bila telah tiba di tujuan. namun, adakalanya roda itupun berhenti karena hambatan - hambatan. hidup beserta masalah adalah lumrah.memang demikian adanya. hidup tanpa masalah mungkin juga ada. akan tetapi, itulah masalahnya, mengapa bisa tidak ada masalah? normalkah?

maka kembali pada bagaimana kita menyikapi. terbelit dalam masalah, pikirkanlah solusi; bukan kesulitannya. karena akan membebani kita.

serahkan pada sang Penguasa semesta, karena Allah swt maha berkehendak. entah bagaimana penyelesaiannya, terkadang tak pernah sedikitpun terbayang dalam pikiran kita. lantas untuk apa lagi ragu? bila tak sanggup membina diri kita, bersama iman dan taqwa padaNya, tunggulah kebinasaan itu dari jalan yang tak disangka -sangka.




Yang Akan Kita Tinggalkan

Yang Akan Kita Tinggalkan
Di Kelok itu, beberapa puluh tahun silam, raga ini sempat melintasi. Untuk kemudian, kepada Tuhan saja berbincang dan berencana. Adakah nafas untuk sampai di sana?