Kamis, 21 April 2016

Sebrangi Selat Sunda




Ini kali ke sekian, kubentangkan langkah. Tiada tercemari hari. Berbeda dengan yang dikatakan. Tahukah engkau? Allah menciptakan keragaman agar kita mempelajari satu dengan lainnya. Perbedaan. Yang teristimewa adalah pembeda. Terkhususkan jua, pada nama - nama yang diciptakanNya.

Ada hamparan, penuh abu – abu dan biru. Sebagian melihat makin dekat, padahal telah sering. Sebagian menetap, padahal ingin beranjak. Sebagian, berkutat pada ayat – ayat. Ada juga yang menyimak lantunan biduan menceramahi pilar - pilar besi di tengah laut. Bersama lenggoknya dibaluri busana biasa. Bising musik berdebat dengan gertak gelombang pada badan kapal. Kemana engkau? Lantai berayun terasa. Dari sebaris ini, kutemukan keteguhan. Seperti aku dapatkan kembali namamu yang kulabuhkan di kalbu, tanpa pernah terganti.

TERIMAKASIH TELAH SINGGAH

perjalanan hidup manusia berputar seperti roda. suatu saat akan berhenti, bila telah tiba di tujuan. namun, adakalanya roda itupun berhenti karena hambatan - hambatan. hidup beserta masalah adalah lumrah.memang demikian adanya. hidup tanpa masalah mungkin juga ada. akan tetapi, itulah masalahnya, mengapa bisa tidak ada masalah? normalkah?

maka kembali pada bagaimana kita menyikapi. terbelit dalam masalah, pikirkanlah solusi; bukan kesulitannya. karena akan membebani kita.

serahkan pada sang Penguasa semesta, karena Allah swt maha berkehendak. entah bagaimana penyelesaiannya, terkadang tak pernah sedikitpun terbayang dalam pikiran kita. lantas untuk apa lagi ragu? bila tak sanggup membina diri kita, bersama iman dan taqwa padaNya, tunggulah kebinasaan itu dari jalan yang tak disangka -sangka.




Yang Akan Kita Tinggalkan

Yang Akan Kita Tinggalkan
Di Kelok itu, beberapa puluh tahun silam, raga ini sempat melintasi. Untuk kemudian, kepada Tuhan saja berbincang dan berencana. Adakah nafas untuk sampai di sana?
Ada kesalahan di dalam gadget ini