Kamis, 28 September 2017

Kopi Pacar Hitam BDL





Bagaimana harimu, Teman - teman? Semoga selalu dalam keadaan yang baik. Kali ini aku ingin menceritakan sedikit kisahku tentang kopi. Wah, nampaknya ini akan menjadi angin segar bagi para pencinta kopi. Tapi sebelumnya, pecinta kopi itu yang seperti apa ya? Apakah para pecinta kopi adalah para peminum kopi? Dan benarkah para peminum kopi adalah pecinta kopi? Nah, ini harus dilakukan penelitian khusus. Jangan hanya dilihat dari satu atau dua sampel. Terlebih lagi kalau sudah membicarakan tentang cinta. 

Malam itu, aku diajak oleh teman - teman. Sebenarnya di lain hari sudah pernah diajakin. Tapi karena masih ada urusan yang harus diselesaikan, maka tertunda.

Gadis Misterius : 
“ Oya, senin malam selasa kalo mau ngikut ngopi miss di kedai kopi pacar hitam.. ana lg program diet minum espresso ^_^ dan sekarang lg efeknya.”

Desma 
“ Kopi pacarku ada ga?”

Gadis Misterius: 
“ Soon miss abis akad ^_^”

Ini perbincanganku dengan sang pengajak. Akhirnya di hari nan tak terduga. Jadi pula aku mengunjungi kedai kopi pacarnya, eh bukan Pacar Hitam. Lewat jam delapan malam, motor yang kutumpangi melintas. Jalan masih ramai, tapi memasuki gang PU, tentu sudah tak seberapa. Sembari berbincang di kendaraan, aku mulai mengamat - amati sekelililng. Jika suatu ketika ke lokasi sendiri saja, takkan nyasar. Lurus saja masuk Gang PU, setelah agak lama, belok kanan. Tibalah di lokasi.


Kedai kopi yang lumayan unik. Dinding berwarna hitam, ada hiasan lukisan di temboknya. Seperti lukisan labirin tampak dari atas. Tak banyak kudapatkan penjelasan tentang lukisan itu. Lukisan yang satu lagi lebih unik. Pohon kopi. Pohon kopi yang kita tahu, berbuah kecil - kecil, bukan? Nah, lukisan yang ini biji kopinya membesar. Sehingga kalau dari pemikiran orang yang berbeda, nampak beda juga gambarnya. Bahkan aku juga berkomentar bahwa biji kopinya lebih mirip seperti gambar burger.

Meja terbuat dari drum, dicat merah. Kombinasi apik dengan tembok, memberi kesan kuat dan tajam. Ada sedikit buku - buku bacaan di rak kecil pojokan. Terpancang pada dinding. Bukan majalah atau komik tentu saja. Seolah menyisipkan pesan bahwa para peminum kopi adalah pemikir sejati. Pada meja tempat membuatnya, ada beberapa toples kecil berisi biji - biji kopi, telah ditandai pada tempelan kertas untuk pembeda jenisnya. Juga beberapa alat yang unik. Di sini, biji kopi baru digiling ketika hendak disajikan. Takaran airnya juga ada ukuran. Bukan perkara sembarangan, Teman. Untuk hasil terbaik, memang demikianlah proses yang harus dilintasi.


Berkenalan dengan si peracik kopi, namanya Kak Firman. Ternyata beliau juga seorang penulis kisah perjalanan. Nanti di lain waktu inshaaAllah kuceritakan juga tentang tulisan beliau. Sempat bingung ketika ditanya hendak minum kopi apa? Arabica, Espresso, Kerinci? Selama ini aku selalu minum kopi sachet yang sudah jadi. Takaran kopi, gula, susu dalam satu kemasan. Tinggal seduh dengan air panas. Jadi deh. Menanggapi pertanyaan demikian, maka jawaban yang paling bijak adalah kembali dengan pertanyaan. Alhasil, kopi Arabica tersaji di hadapan. Tenang, kawan. Bagi yang terbiasa dengan kopi sachet yang rasanya bersahabat, kopi yang tengah terhidang ini akan menjadi kejutan. Itulah yang kurasakan. Tanpa ada tambahan gula, susu, dan krim. Rasanya yang tercecap di awal, pahit. Sepahit cintaku padanya. Eits, apalah!
Obrolan santai berlangsung damai. Topik tentang kopi lumayan menambah wawasan. 

Ternyata beliau juga peserta Lacofest (Lampung Coffee Festival) yang diadakan di Lampung beberapa waktu lalu. Pantas saja, auranya beda. Terlihat sangat mengusai tentang kopi, dari sejarah, juga cara mereaciknya. Meskipun dari pengakuannya, belum lama juga beliau mempelajari tentang kopi. Sesekali tawa tercipta. Bahkan beliau tak sungkan untuk bersenandung bersama petikan gitar. Lagu - lagu mengalun mewarnai suasana sekitar yang sudah mulai lengang. Sejak tadi hanya ada satu pengunjung lain yang minta dibuatkan kopi. Sepi juga, hal inipun diakui oleh kak Firman. Mengapa demikian? Tentu setiap orang memiliki alasan. Secangkir kopi Rp. 15.000, untuk segala proses dan hasilnya, menurutku sangatlah lumrah. Tapi bisa saja bagi sebagian orang lumayan jauh selisihnya jika dibandingkan dengan kopi sachet di kisaran Rp. 2.000. Itu pilihan.


Kopi pada cangkir hijau masih menantang untuk kuteguk. Rasa pahit yang sampai ke otak telah lekat. Ada rasa penasaran untuk kembali pada tegukan selanjutnya, ketika melihat kedua temanku begitu menikmati. Maka kuteguk lagi, lagi, dan lagi. Memang benar, ada perubahan kesan pada setiap tegukannya. Untuk kelanjutannya bukan lagi pahit. Ada rasa sepat, biasa saja, namun tercampur dalam lidah. Sehingga ada kebingungan hendak menyimpulkan bauran rasa yang dihadirkan kopi ini. Senandung lagu Dona - Dona, muncul. Aku mendengarkan. Sayang sekali, hanya sejenak untuk kemudian beliau menyudahi. Yah, padahal suara beliau bagus. Bayya, temanku beralih mengambil gitar, dipetiknya ragu - ragu. Tanpa suara, sepertinya nyanyian itu khusus untuk hatinya. 

Akhirnya aku berhasil menghabiskan secangkir kopi Arabica racikan Kak Firman. Mayya, seorang temanku lagi, membaui cangkir yang telah kosong. Ada aroma lain yang baru muncul. Hmm, benar - benar penuh misteri. Hingga akhir, tetap memancing rasa penasaran. Sempat menebak aromanya, tapi belum tepat. Jadi semakin ingin untuk belajar. 

Sudah dua jam singgah di kedai kopi Pacar Hitam. Jalanan makin sepi. Para pengelana harus melanjutkan perjalanan. Aku, Bayya, dan Mayya berpamitan. Kami tinggalkan kak Firman bersama pasukan kopi dan bala tentaranya di kedai itu. Dalam perjalanan, terbelit tanya: Aku pecinta kopikah? Sudah sedalam apa kecintaanku pada kopi? Sebanyak apa pengetahuanku tentangnya? Atau sekedar peneguk saja, sebagai teman canda saat memerangi malam?

Bandarlampung, 23 September 2017.

Senin, 18 September 2017

Belajar Bahasa Inggris Nggak Pakai Nangis







Oleh: Desma H., S. Pd.



Ingin sekali bisa berbahasa Inggris dengan lancar. Selain itu juga bisa mengerti apa yang sedang dibicarakan. Tapi, ketika sudah mulai dipelajari, bahasa Inggris cukup rumit. Apalagi kalau sudah membahas Grammar. Tenses yang banyak sekali macamnya itu. Aduhai, bisa nangis…

Jika belajar Bahasa Inggris dirasa sulit, maka sudah saatnya kita mengubah paradigma tersebut. Belajar bahasa adalah pembiasaan. Setelah dipelajari, dipraktikkan, selanjutnya bahasa tersebut harus selalu dipergunakan setiap hari. Terlebih, pada kenyataannya dalam penggunaan bahasa, ada empat skill yang harus terlibat. Kemampuan berbicara, mendengar, membaca, dan menulis. Mengaktifkan ke empat kemampuan ini, tentu akan sangat membantu dalam mempelajari bahasa asing. 

Di sini saya akan memberikan beberapa tips untuk belajar Bahasa Inggris nggak pakai nangis. Saya juga pernah mengalami kesulitan dalam mempelajarinya. Itu sebab saya memilih jurusan Bahasa Inggris ketika di Perguruan Tinggi. Dari yang tidak bisa, sampai akhirnya bisa. 


  • Harus dimulai dengan niat yang tulus. Dari hati yang paling dalam. Walau badai menghadang, harus tetap tangguh berjuang. (Kenapa jadi seperti cuplikan lagu ya?) ^_^
  • Tentukan targetnya terlebih dahulu: misalnya, ingin menguasai percakapan sederhana. Ingin bisa mengerjakan soal - soal test, dan lain sebagainya.
  • Belilah satu buku panduan untuk belajar cepat. Sehingga ada tujuan jelas yang hendak dicapai.
  • Berani membuka kamus. Walaupun hanya tahu satu atau dua kosakata, tetap berusahalah untuk menebak - nebak arti kata yang lainnya. 
  • Bacalah dengan keras. Ucapkan berulang - ulang. Berlatih saja seperti Native Speaker. Dengan kita membaca berulang kali, akan melatih pembiasaan untuk lidah dan juga telinga.
  • Sering - seringlah menonton film yang berbahasa Inggris atau mendengarkan lagu yang berbahasa Inggris. Tak apa terjemahannya dengan Bahasa Indonesia, karena secara otomatis kita akan belajar tentang kosakata tertentu dan juga artinya. 
  • Bergabunglah dengan komunitas yang berkomitmen untuk menggunakan Bahasa Inggris dalam percakapannya, atau bisa juga ikut kursus di  lembaga Bahasa. Karena sebenarnya di lembaga kursus, yang menjadi motivasi seseorang untuk belajar adalah adanya paksaan dan targetan.

Nah, sederhana bukan? Tapi harus tetap bersungguh – sungguh melaksanakannya. Silahkan Dipraktikkan. Semoga berhasil.


Minggu, 17 September 2017

GAME ONLINE






“ Obi! PR! Ayo kerjakan!” Teriak Chika kakakku.
Perkenalkan, aku Obi. Obi Akroman nama lengkapku. Sekarang berusia 14 tahun. Hobiku adalah main game. Biasanya teman - teman mengajakku main bola setiap sore. Ah, mereka tak pernah bosan mengajakku. Dan aku juga tak pernah bosan menolak ajakan mereka. Mudah saja, kukatakan aku sangat sibuk. Tentu sibuk main game. Kemudian sosok yang berteriak tadi adalah, kakakku. Ia sangat perhatian dan terkadang baik. Lebih sering ia seperti monster, yang suka membangunkanku dengan teriakan yang mengerikan. Bisa membangunkan seisi rumah. Ia tak pernah terlewat untuk melakukan itu. Aku juga tak pernah terlewat untuk menutup telinga dengan bantal, jika suara adzan Subuh telah berkumandang. Itu pertanda teriakannya akan dimulai. Oh, beragam alasan untuk aku menolak terjaga. Semua manusia sepertinya mengakui bahwa suara adzan Subuh adalah kode, bahwa waktu paling nikmat untuk tidur telah dimulai. Chika, kakakku itu tak akan tinggal diam. Ia akan mengguyurku dengan segayung air tanpa basa - basi. Jika sudah sampai pada tahapan ini, aku harus menyerah. 

Daripada tak bisa tidur karena kasur basah, lebih baik aku terjaga sejenak untuk sholat Subuh. Tak lama, sekitar lima menit saja. Aku sudah hafal semua bacaan sholat sejak TK. Kemudian melanjutkan tidur. Jika sudah begini, Chika akan berubah bentuk menjadi seorang ustadzah. Semua hadits keluar. Hafalan Qurannya juga langsung berbunyi.
‘ Janganlah menyia - nyiakan waktu, Obi. Jika sudah selesai urusan yang satu, maka selesaikanlah urusan yang lain, Al Quran surat ke 94 ayat 7.’

Sebenarnya, saat ini bukanlah usai sholat Subuh. Hari ini libur. Sudah menjadi kebiasaanku untuk tetap berada di kamar untuk bermain game. Jadi begini, Teman. Aku adalah seorang gamer sejati. Telah banyak mengikuti kejuaraan game. Memang belum pernah menjadi juara, tapi aku tetap berusaha. Papa dan Mama sangat mendukung, karena kata mama, orang yang pintar bermain game itu sebenarnya cerdas. Ia banyak memiliki strategi - strategi. Perlu pemikiran dan analisa tinggi. Jadi, kesimpulannya aku bisa bermain game. Apalagi di hari libur. Aku lebih senang diam di kamar sambil membuka laptop. Sedangkan kakakku lebih sering bermain di luar rumah bersama teman temannya.

“ Ya, 5 menit lagi!” Jawabku.
“ Terserah lah, kamu kan pintar jadi tak masalah. Tapi besok dikumpul!”
Teriak Chika lagi. Aku keluar dari kamar sambil membawa buku dan pena, kemudian duduk di sampingnya. Mulai mengerjakan PR IPA. Tak perlu waktu lama untuk menyelesaikan kumpulan soal itu. Chika masih bergelut dengan kamus tebal Hasan Shadili.
“ Ah, sial. Banyak sekali soalnya.” Keluh Chika.
Aku melirik ke araknya. Lalu berdiri sambil membawa buku ke kamar.
“ Obi, mau ke mana?”
“ Main game.”
“ PR sudah selesai?”
“ Sudah.”
“ Berapa soal?”
“ 80. Tenang saja, otakku sangat cemerlang. Apa mau mengecek PRku?”

Ia menggeleng. Kutinggalkan Chika di ruang tamu. Sering sekali Chika kesal padaku. Karena beragam alasan. Mulai tak mau makan, malas mandi, bangun kesiangan, dan lain lain. Beberapa kali Chika menghancurkan laptopku, karena aku terlalu asyik main game. Aku selalu membeli yang baru. Uangku banyak, warisan dari kakek dan nenek yang telah meninggal. Dan untuk kali ini sepertinya Chika tak akan membiarkanku membeli laptop yang baru karena dia telah mencuri uangku di malam hari. 

KRIEET...
Chika tampaknya sudah selesai mengerjakan PR. Aku melirik. CTARR! Laptopku di bantingnya, aku langsung berdiri lalu meninjunya sekuat mungkin. Chika membalas. Sebenarnya ini keterlaluan. Tapi aku harus membalasnya, seperti di game. Aku tak ingin terkalahkan.
“ Ternyata kamu pandai beladiri, dari mana kamu belajar?” Tanya Chika.
“ Game!” Jawabku singkat.
Kemudian Chika memegang kedua bahuku dan membenturkannya di kaki kanannya. tiba – tiba…
PSTT JDARR DRRTT!
Laptopku yang tadinya rusak bergetar mengeluarkan suara. Satu tangan yang besar keluar dari layar laptop dan menarikku entah kemana.

Aku bangun di tengah rumput rindang di mana sebuah laptop dan earphone tergeletak di samping. Aku langsung memakainya dengan senang tanpa mempedulikan siapa pemiliknya. Saat di buka, isi laptop itu hanya game. Dengan wajah riang aku memainkan salah satu permainan berjudul “ Point Blank”,  tiba - tiba segerombolan orang membawa pistol besar menembaki. Aku terkejut melihat darah di sekujur tubuh,  tetapi aku tak mati. Aku tahu cara bermain game ini. Laptop ini adalah kuncinya, aku hanya perlu duduk diam memainkan game, jika laptop ini hancur diserang musuh. Berakhirlah game ini. Begitu juga nyawaku di dunia virtual dan dunia asli. Game ini mempertaruhkan nyawa bagi yang menganggap ini serius. Seketika ada seorang berbaju hitam mendekatiku.
“ Kamu seorang pemain yang hebat. Bergabung lah denganku!” Ajaknya sambil mengulurkan tangan.
“ Yosh.. aku Obi.”
“ Senturi.”
***
Setelah 5 tahun berada di game itu, aku dan Senturi memasuki game level terakhir. Sembari melihat daftar nama pemain di sana, dari 1637 player hanya tersisa 300 player yang masih hidup. Aku tahu game ini mempertaruhkan nyawa. Aku sama sekali tak mempedulikannya, karena aku muak hidup di dunia yang busuk itu. Tapi sekarang berbeda, aku dapat hidup lebih berwarna di sini. Dan inilah game terakhir yang bisa kumainkan.

Kali ini aku memilih icon di laptopnya dengan tulisan “ SWORD”, lalu muncul sebuah pedang di tanganku dan perintah kali ini adalah ‘Bertarung dengan patner sendiri’. Kami bertarung tidak melalui laptop, melainkan bertarung manual. Tak ada rasa takut sedikitpun. Aku lihat Senturi sudah siap dengan pedangnya. Dengan cepat aku menyerang Senturi menggunakan  pedang elucidator milik Kirito di anime Sword Art Online. Hampir tak terlihat gerakannya dan langsung saja terlihat sebuah pedang menancap di tanah. Aku melirik ke belakang mencari Senturi yang hilang tiba. Di kejauhan sana Senturi sedang membersihkan tangannya. Aku mendekat. Tiba - tiba, aku jatuh di arena dengan luka di perut. Aneh, aneh sekali. Bagaimana mungkin ini terjadi? Kesadaranku belum hilang.

“ Pernahkah kamu melihat kedalam menu utama? Player terkuat di sana adalah.”
Senturi membuka menu utama dan mengklik kata ‘play’ dan memperlihatkannya padaku, itu adalah menu yang memperlihatkan para player terkuat.
“ Kira? Itu, kamu?” Tanyaku terkejut.
“ Kamu tak akan bisa pergi dari game ini sebelum aku membunuh mu!”
Senturi sudah siap dengan pedangnya.
“ Siapa kamu sebenarnya? Siapa nama samaranmu yang lain?!”
“ Maaf ya, tapi sekarang kita tak perlu ada rahasia lagi. Ada satu hal yang harus kamu ketahui.”
“ Apa?!”
“ Sebenarnya namaku bukanlah Senturi ataupun Kira. Aku ini, Chika.”
Dengan cepat Senturi ah… bukan, Chika mengambil pedang excalibur yang tertancap di tanah. Sepertinya ia berniat menusuk jantungku. Pedang itu mendekat dan aku seperti terkunci. SLEP!
“ Tak semudah itu, Kakak.”
Dengan berlumuran darah di tanganku karena menahan pedang excalibur milik Chika alias Senturi, aku memegang erat pedang itu sampai Chika tak bisa mengambilnya, tanpa ragu aku menusukan pedan elucidatorku ke jantungnya. Dan selesai sudah Chika yang mulai menghilang menjadi butiran kristal.
“ Berhasilkah?”
Tiba- tiba sebuah pedang besar menghantam kakiku, pedih rasanya, secepat kilat aku mengambil pedang milik Chika yang tergeletak di depannya walau berlumuran darah.
“ Ternyata game ini belum selesai!”
Alkku sudah lelah. Dengan menggunakan ‘ skill sword double’ aku memotong kedua kaki monster yang memegang pedang besar itu. Aneh, bukannya mati, malah jumlah monster itu bertambah banyak. Berkali - kali aku menyerang monsteri itu tetapi nyawanya bertambah drastis.
“ NPC? Pasti NPC!” Yakinku dengan pikiranku yang kelelahan. Tapi dengan cepat monster itu menyerang laptopku dan selamat tinggal dunia untukku.
***
“ Bangun, Obi! Sudah mau magrib. Kamu ini keterlaluan sekali. Dari tadi dibangunin, benar - benar tidak bangun juga.”
“ Senturi! Kamu Senturi!”
“ Senturi? Makanya jangan ngegame terus. Sudah dibilangin jangan tidur kalau selepas ashar. Bisa linglung. Sana cepatan mandi. Siap - siap sholat magrib.”
“ Magrib?”
“ Jangan - jangan kamu belum sholat Ashar?”
Aku mengangguk. Wajahnya berubah. Sebelum hal yang lebih mengerikan terjadi, cepat - cepat kuberanjak.
“ Obi..!”
Teriakannya terdengar sudah jauh. Kulihat jam dinding, sudah setengah enam. Kepalaku berdenyut. Memangnya aku tadi tidur jam berapa? Benar - benar tidak ingat. Berjalan terhuyung menuju kamar mandi. Tadi sepertinya semua nyata. Aku masih baik - baik saja. Kulihat kalender, masih 2016. Sungguh perjalanan yang lama. Alhamdulillah, aku masih bisa kembali. Dari mana saja aku sebenarnya tadi? Nanti kupikirkan.


Bandarlampung, 6 Agustus 2016


Biodata Penulis

Assalamu’alaikum WR.WB
Hai! Namaku Aishalza Nahdia Al-Kasturi! Aku dilahirkan di Kotabumi,19 September 2003. Keluargaku dilengkapi oleh Ibu yang bernama Sriwidarti, Ayah yang bernama M.Kastur dan kakak laki laki bernama M.Ardan Al-Kasturi aku anak ke-2 dari 2 bersaudara.Maniak Anime dan Manga Jepang.

            Hobiku yang paling utama adalah menggambar selain itu adalah membuat komik, menulis,membaca komik atau novel, menonton film atau anime, bermain game, bermain laptop, karena itu aku menjadi minus 5. Cita citaku menjadi Dokter, hafidzoh,Komikus ,animator,Pengusaha, pelukis, dan masih banyak lagi.Sekarang aku bersekolah di SMPIT Permata Bunda Islamic Boarding School, kelas 9 Umu Salamah, makanan dan minuman kesukaan ku terserah aja sih, yang penting halal. Jika ingin mengenalku lebih dekat Facebook Aishalza Nahdia!


Ini adalah cerpen seorang murid saya, yang telah diterbitkan di Koran Radar Lampung, Minggu, 16 September 2017, kolom Sastra Milik Siswa.


Jumat, 15 September 2017

Puisi, Kata nan Padat, Makna yang Tepat



Oleh: Desma Hariyanti, S. Pd.



Puisi adalah karya yang memiliki lebih dari satu lapisan makna. Berbeda pembaca, berbeda pula pemahamannya terhadap puisi tersebut. Oleh karena itu, ketika puisi sudah dilempar ke tanah publik, maka menjadi hak pembaca sepenuhnya untuk menilai sebuah puisi. Apakah diterima dengan baik dan menerima pujian, atau ditolak dan mendapat umpatan? Puisi, seperti namanya, adalah misteri yang menarik untuk diselidiki, kemudian dimengerti. Puisi, adalah hal paling jujur yang terselubungi.

Puisi karya Putri adalah puisi yang beragam, menunjukkan keluasan pandangan. Perempuan Manis, Fatamorgana Rindu, Tentang Rinduku, Terbang dalam Angan, dan Detik-Detik Lirik merupakan perwakilan dari sudut pandang Putri dalam melihat kehidupan. Perempuan manis menceritakan tentang bagaimana seharusnya menjadi seorang wanita. Tak harus cantik. Namun yang terpenting adalah peran atau kebermanfaatan seorang  wanita yang bahkan bisa mengubah dunia. Putri sukses menggambarkan keluarbiasaan wanita ini dengan kata - katanya yang jelas. kau berhasil mengubah peradaban, melalui seuntai senyum yang menakjubkan. Perempuan manis, kau berhasil membuat orang mengerti akan kecantikan sejati. Di sini hal yang paling penting telah tersampaikan. Lantas bagaimana seorang bisa menjadi perempuan manis? Tentu menjadi tugas perempuan itu sendiri untuk mempelajarinya.

Fatamorgana Rindu menceritakan tentang kerisauan penulis dalam mengatasi kerinduannya. Hal yang sangat biasa dirasakan oleh para perindu. Maka puisi seperti ini biasanya lebih mudah untuk dimengerti para pembaca. Bgaimana rindu? Semua orang bisa memahami, namun untuk menjabarkannya dengan kata - kata, Putri sudah cukup mewakili kegelisahan kebanyakan orang tentang kerinduan. Pengulangan kata Duhai Kenangan sampai empat kali menjadi titik tekan di sini. Meskipun sebenarnya dalam berpuisi pengulangan yang terlalu sering bisa menjadikan puisi kurang padat. Cukup sampaikan sekali, namun dapat dan tepat sasarannya. Hal ini juga ditemukan pada Perempuan Manis. Pengulangan kata yang serupa hingga tiga kali.

Puisi ke tiga yang berjudul Tentang Rinduku mengisahkan perihal perpisahan yang sebenarnya sangat tidak diinginkan. Ada kejujuran sang penulis di sini. Tuhan, aku tak ingin kehilangan, namun aku pun ingin mereka merajut masa depan. Ada pertentangan yang menimbulkan gejolak dalam kalimat yang dituliskan menjelang akhir bait. Rindu yang tersimpan tanpa sempat terucapkan, adalah kepedihan akut yang penulis derita. Hingga akhirnya dituliskan, karena tak sempat terucapkan. Sangat unik. Jika begini keadaannya, tentu setiap orang bisa berpuisi, atau setidaknya pernah berpuisi. Ya, ketika kerinduan itu menyergap.

Terbang dalam Angan adalah puisi yang menceritakan tentang ketakutan akan kesendirian. Kare
na ketika seseorang terbang tinggi, sendiri. Yang dicemaskan lagi ketika terjatuh, dan hanya sendiri. Padahal seseorang tadi terbang hanya bertujuan untuk diperhatikan olehnya. Bersumber dari kekhawatiran itu, maka penulis memutuskan untuk terbang dalam angan saja. Ini adalah lapisan makna pertama dari puisi ini, ada lapisan kedua yang juga bisa kita nikmati dari Terbang dalam Angan. Bahwa dalam kehidupan ini, terlalu sering tujuan seorang mencapai cita adalah karena seseorang. Sehingga suatu ketika, meskipun cita telah tercapai, dan seorang tadi tiada merespon, akan menjadikan derita bagi si pemilik cita. Maka, alangkah baiknya dalam menentukan tujuan berlandaskan dengan niat yang tulus ikhlas, dan ditujukan kepada mencari ridho Tuhan. Dengan demikian tak ada kekecewaan setelahnya. Puisi ini lebih cenderung kepada curahan hati penulis. Sehingga apa yang hendak diceritakan lebih mudah dicerna. Namun, jika penulis lebih berani membuang kata- kata berulang, puisi akan jadi lebih kokoh.

Puisi ke lima adalah yang sangat menarik. Ada olahan rima yang nyentrik. Diksi yang dipilihpun sudah beragam. Detik - Detik Lirik mengisahkan tentang perasaan penulis yang cukup terusik dengan lirikan seseorang. Namun dari pemilihan kata yang sederhana, kesan yang diterima pembaca adalah ketenangan. Tatapmu memecah belah sukmaku. Ini bukanlah perkara main – main tentu saja. Namun, di baris akhir penulis memberikan kata - kata tangguhnya, ku tatap dirimu yang tak sempat berbalik. Meninggalkanku sendiri dalam rindu yang berbisik. Rindu itu dibuatnya berbisik, bukan berteriak, atau meronta. Seolah, penulis ingin sampaikan bahwa ia baik - baik saja dan tidak seberapa kacau dengan perasaannya. Pada puisi ini Putri menyajikan berbeda. Ada pilihan diksi yang memperhatikan rima. Selain itu pengulangan kata juga tak terlalu banyak.

Sungguh luar biasa Putri meramu kata. Diksi yang biasa dapat disusunnya dengan rapi, dengan bubuhan suasana, terciptalah puisi. Cukup singkat dan pesannya telah tersampaikan. Itu adalah hal yang terpenting ketika mengolah kata. Ada makna yang terkandung di dalamnya. Ada tujuan mulia yang hendak disampaikan penulisnya. Sehingga, suatu karya akan tetap hidup dalam masa apapun. Selagi kehidupan ini berjalan, kisah yang terjadi seperti ada pengulangan. Maka yang terbaik adalah, selalu belajar dan memperbaiki diri. Kemudian mengingatkan orang lain, agar tetap dalam kebaikan. Jika tak bisa secara langsung, bisa menggunakan pena. Dengan demikian, kekuatan kata - kata akan tersampaikan. Seperti itulah puisi mengambil peran.

Bandarlampung, 8 Juni 2017


Tulisan ini dimuat di Radar Lampung, Juli 2017
Kolom pembahasan Sastra Milik Siswa.




TERIMAKASIH TELAH SINGGAH

Perjalanan hidup manusia berputar seperti roda. Suatu saat akan berhenti, bila telah tiba di tujuan. Namun, adakalanya roda itupun berhenti karena hambatan. Hidup beserta masalah adalah lumrah. Memang demikian adanya. Hidup tanpa masalah mungkin juga ada. Akan tetapi, itulah masalahnya, mengapa bisa tidak ada masalah? Normalkah?

Maka kembali pada bagaimana kita menyikapi. Terbelit dalam kerumitan, pikirkanlah solusi; bukan kesulitannya. Karena hal ini akan menjelma beban.

Serahkan pada sang Penguasa semesta, karena Allah swt maha berkehendak. Entah bagaimana penyelesaiannya, terkadang tak pernah sedikitpun terbayang dalam pikiran. Lantas untuk apa lagi ragu? Bila tak sanggup membina diri, bersama iman dan taqwa padaNya, tunggulah kebinasaan itu dari jalan yang tak disangka -sangka.




Yang Akan Dibanggakan

Yang Akan Dibanggakan
Menara Siger Lampung