Jumat, 15 Oktober 2021

Resensi Buku Zalzalah


 Oleh: Desma H.


Judul: Zalzalah

Penulis: Mashdar Z.

Penerbit: Semesta Pro-U Media

Tahun terbit: 2009

Tebal buku: 325


Novel yang sangat bagus dari pemilihan judul. Zalzalah, Biarkan Cinta Sampai Pada Akhirnya. Akhir yang bagaimana? Seperti telah diisyaratkan oleh penulis, bahwa kemana kelak cinta bermuara, sesungguhnya semua makhluk telah memahaminya. 

Berlatar di pondok pesantren sekaligus panti asuhan yang terletak di daerah Jawa Timur, dalam percakapan tetap menyuguhkan karakter orang Jawa yang santun dan ramah. Para tokoh tetap teguh di lini tersebut. Konflik yang terjadi kebanyakan konflik batin, tidak ada keributan fisik. Di sanalah sang penulis piawai mengaduk-aduk perasaan pembaca. 

Bahkan pembaca pun dibuat larut dalam kisruh perasaan. Seharusnya Milati begini saja, Misas begini. Yah, sebagai pembaca saya hanya bisa merutuk kesal. Pada akhirnya "kematian" tokoh menjadi senjata penulis untuk mengakhiri polemik. Kemudian, biarkan para pelaku hidup melanjutkan masing-masing kisah.

Mengaitkan dengan peristiwa gempa Yogyakarta beberapa tahun silam, tentunya membuat kisah ini menjadi nempel di pikiran pembaca. Ada padanan peristiwa yang mudah diingat. Bahwa dari musibah gempa, ada kejadian lain juga sebenarnya, dan itu kuasa Sang Pencipta.

Pada akhirnya saya tetap menyimpulkan bahwa buku ini bagus, ringan untuk dijadikan hiburan, namun padat dengan nasihat-nasihat. Dan bisa jadi juga agak membosankan bagi orang-orang yang ringkas. Oh, ternyata orang pesantren kalau ngomong pakai hadist dan ayat-ayat. Berat banget ya. Namun bisa jadi sebuah pengetahuan baru bagi mereka yang benar-benar haus akan ilmu agama. Begitulah tentang buku ini.

Selebihnya, antar tokoh tidak terlalu banyak memainkan emosi. Semua nrimo, sabar, dan tetap berusahan bertahan atas semua keadaan. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

TERIMAKASIH TELAH SINGGAH

Perjalanan hidup manusia berputar seperti roda. Suatu saat akan berhenti, bila telah tiba di tujuan. Namun, adakalanya roda itupun berhenti karena hambatan. Hidup beserta masalah adalah lumrah. Memang demikian adanya. Hidup tanpa masalah mungkin juga ada. Akan tetapi, itulah masalahnya, mengapa bisa tidak ada masalah? Normalkah?

Maka kembali pada bagaimana kita menyikapi. Terbelit dalam kerumitan, pikirkanlah solusi; bukan kesulitannya. Karena hal ini akan menjelma beban.

Serahkan pada sang Penguasa semesta, karena Allah swt maha berkehendak. Entah bagaimana penyelesaiannya, terkadang tak pernah sedikitpun terbayang dalam pikiran. Lantas untuk apa lagi ragu? Bila tak sanggup membina diri, bersama iman dan taqwa padaNya, tunggulah kebinasaan itu dari jalan yang tak disangka -sangka.




Yang Akan Dibanggakan

Yang Akan Dibanggakan
Menara Siger Lampung