Oleh: Desma H.
Pagi ini sejuk sekali. Dingin merasuk belulang. Hadir di sekolah, sekian menit jelang bel berbunyi. Mengambil air hangat secangkir, ketika diminum masih dingin. Ulala, ternyata lupa memasang kabel dispenser. Majelis pagi bersama kelas 7 Dewi Sartika. Empat orang tak masuk sekolah, 1 orang izin bertemu ayahnya. Satu lagi izin ikut vaksin ke-2. Satu lagi izin, operasi mulut. Ada giginya yang terhalang bertumbuh gegara ditikung gigi lain. Satu lagi izin operasi di kaki. Jempolnya cantengan, sehingga kuku kaki harus dicabut. Belum ada yang izin operasi plastik. Wow, jadi ngebayangin perubahan wajah mereka seperti artis Korea.
Berlangsung aman, damai, sentausa. Cuaca dingin menyergap, membuat mereka tampil tertib. Jas almamater dipakai semua. Setelah mempersiapkan anak-anak, karena akan ada guru yang disupervisi di kelas, aku beranjak pergi. Supervisi adalah peristiwa sakral bagi seorang guru. Pengondisian siswa adalah hal penting, agar mereka tidak terkaget-kaget saat ada supervisor yang masuk.
Kali ini, aku masuk kelas 7 Ki Hajar Dewantara. Janji manis pengadaan es krim bagi siswa yang berhasil meraih nilai PTS di atas 90, ditunaikan. Mereka bergembira.
"Kenapa kalian ga mau dikasih hadiah buku? Anak putri hadiahnya buku loh."
Aku tanyakan hal ini. Karena mereka memilih es krim. Kalau dilihat harga beda jauh tentunya.
"Enakan es krim, Miss. Buku nggak bisa dimakan."
"Oke deh."
Jawaban ringkas mereka membuatku terkekeh. Berlanjut ke pelajaran B. Inggris. Sengaja kelas kubuat santai. Kalau tak bisa boleh bertanya. Kalau tak tahu artinya, buka kamus. Latihan speaking, dibaca seperti hurufnya, apa adanya. Enjoy aja. Yang penting mereka suka dulu dengan B. Inggris.
Tetiba, Aji berbicara sendiri dengan B. Inggris. Hal yang tak pernah ia lakukan.
"Yo, English, Man!"
"Yea, good!"
Begitu terus. Tentu menarik perhatian.
"Aji, kenapa?"
Aku bertanya dari kursi guru. Tetap jaga jarak. Aku tak bisa mendekat.
"Yo, Man!"
Teman-temannya tertawa. Akupun begitu. Kelas jadi riuh. Aji tetap berbahasa Inggris. Wah..jangan-jangan.
"Aji kerasukan jin Inggris ya?"
Ucapku membuat gaduh. Tentu makin riuh. Kali ini teman-temannya ikut tertawa.
"Yo, Man!"
Satu orang mengambil sajadah. Ditutupinya kepala Aji, sembari membaca doa-doa. Hendak merukiyah Aji.
"Jangan-jangan. Jangan diusir. Biarkan saja Aji begitu. Ms. Des malah senang. Dia jadi pinter B. Inggris!"
Mereka tertawa. Aji pun begitu.
"Yo, Man!"
Bandarlampung, 18 Oktober 2021
Tidak ada komentar:
Posting Komentar