Jumat, 09 Oktober 2020

Da Conspiracao

 



Judul Buku: Da Conspiracao

Penulis        : Afifah Afra

Tebal buku : 632 halaman

Penerbit      : Afra Publishing

Tahun terbit: 2012



Buku kelanjutan dari De Liefde ini menghadirkan cerita yang makin rumit. Berfokus pada perjalanan hidup Rangga di pengasingan. Bertemu dengan tokoh-tokoh baru yang akhirnya juga membersamai Rangga dalam perjuangannya untuk rakyat pribumi.


Prolog yang dimunculkan di awal tentang peperangan Mosalaki, Raja pribumi di sana dengan Belanda. Terbunuhnya Mosalaki yang sangat tersohor ini menjadi awal runtuhnya pertahanan kaum pribumi. Mosalaki yang terkenal kebal peluru, tak bisa mati, akhirnya menemui ajal. Bagaimana kelanjutannya? Semakin seru memang, dan satu catatan penting, sebaiknya buku ini memang dikuliti sampai habis. Jangan lewatkan selembarpun, agar kisahnya tetap terjalin. Sehingga tak bingung nantinya. Karena tokoh-tokoh baru, dengan nama-nama yang unik, akan memperkaya wawasan kita dengan ragam karakter mereka.


Selain itu, ada tambahan bahasa daerah juga di sini. Jadi menambah pengetahuan ragam bahasa pembaca akhirnya. 


Buku ini yang paling tebal dibanding dua buku sebelumnya. Kisahnya makin runyam. Sangat menggambarkan betapa terjajah sekali kaum pribumi kala itu. Bagi Rangga, seorang interniran, tentulah tak banyak yang bisa ia kerjakan. Segala dibatasi, ruang gerak pun tak bisa terlalu jauh dari rumah pengasingan. Namun, ia adalah sosok cendekia yang bisa mengelola kemampuannya dengan bijaksana. Bersama dengan orang-orang baik di sekitarnya, ia pun ikut mengajar bersama Maria di sekolah sederhana yang didirikan oleh Tuan Bob, seorang katolik yang taat. Meskipun berbeda keyakinan, mereka tetap rukun. Dan berjuang bersama untuk rakyat Ende. Bahkan, saling mendukung. Rangga mengajarkan tentang Islam bagi penduduk di sana yang mengaku Muslim namun tak pernah tahu bagaimana beribadah sebenarnya.


Perjuangan Rangga berlanjut pada ide pendirian koperasi. Hal ini dipicu oleh kegelisahannya melihat para nelayan yang sangat ditindas oleh keadaan. Mereka harus membayar sewa kepada pengusaha Tionghoa untuk kapal-kapal yang mereka gunakan melaut. Hasil tangkapan ikanpun kembali dijual kepada pedagang itu dengan harga yang murah. Tan Sun Nio, adalah gadis Tionghoa yang cerdas. Seorang pengusaha kaya yang mewarisi kekayaan kakaknya sebesar 3 juta gulden lebih. Ia yang melaksanakan sumpahnya karena gagal menikah dengan Daniel Lim. Ternyata keberangkatannya ke Ende, malah menjadikan ia terjerumus pada permainan maut yang sudah dimulai oleh almarhum kakaknya. Bisnis ganja. Seorang Tan Sun Nio hanya bisa mengikuti alur, dengan tetap berpegang pada prinsipnya. Sejatinya ia orang baik, namun terpenjara dengan lingkungan yang menjadikannya kerap memakai kekayaan untum menyuap para pejabat dan juga orang-orang di sekitarnya. 


Buku setebal 600 halaman lebih, tentu tak bisa tuntas hanya diceritakan di sini. Sebaiknya memang dibaca sendiri. Rasakan pergolakan batin setiap tokohnya. Kemudian jagalah rasa nasionalisme yang perlahan tumbuh di sanubari.


Penyajian kisah di buku ke-3 ini, langsung dari sudut pandang Rangga dan Tan Sun Nio. Ada kisah cinta yang haru juga diantara mereka. Bagaimana akhirnya? Miris. Kisah-kisah pendukung adalah para bajak laut, Djanggo da Silva, Mari Nusa, Maria, Zondag, Abdullah, Ramos, dan tokoh lainnya yang memadatkan cerita ini.


Pada akhir yang pilu, Rangga kehilangan ingatan, setelah melintasi perjuangannya lolos dari sekapan Djanggo da Silva, yang memenjarakannya dalam goa gelap bersama seeokor phyton yang siap melumat tubuhnya. Rangga dalam kebingungan, dilamar oleh Tan Sun Nio. Dalam kelebat pikirannya masih melintas wajah Everdine, istrinya dan juga Sekar Prembajoen, adik sepupunya. Tapi ia tak ingat, siapa saja mereka.


Akhir kisah, Rangga yang dinyatakan terlibat dalam kerusuhan antara Belanda dan pasukan bajak laut, kembali diasingkan ke Digoel. Ia hanya pasrah dan bingung. Padahal dalam kasus ini ia adalah tawanan. Namun, Rangga tak punya kekuatan untuk membela diri, ia bingung bahkan siapa dirinya pun ia tak ingat.


Nah, bagaimana kisah pengasingan di Digoel. Bukankah di sana juga sudah ada rekan-rekan seperjuangan Rangga yang telah diasingkan terlebih dahulu? Apakah di sana kelak pusat perlawanan kaum pribumi bermunculan kembali? Bagaimana kabar Sekar dan Everdine? Hebatnya penulis, membiarkan pikiran kita berkecamuk sendiri untuk merakit jawaban.


Ataukah, ini langkah penulis untuk mengajak kita bersiap, jika suatu ketika buku ke empatnya muncul? 



Selamat menarik hikmah, dari goresan kata yang disajikan penulis dari buku-bukunya. InsyaaAllah, akan banyak kebermanfaatan yang kita peroleh.



Bandarlampung, 10.10.2020

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

TERIMAKASIH TELAH SINGGAH

Perjalanan hidup manusia berputar seperti roda. Suatu saat akan berhenti, bila telah tiba di tujuan. Namun, adakalanya roda itupun berhenti karena hambatan. Hidup beserta masalah adalah lumrah. Memang demikian adanya. Hidup tanpa masalah mungkin juga ada. Akan tetapi, itulah masalahnya, mengapa bisa tidak ada masalah? Normalkah?

Maka kembali pada bagaimana kita menyikapi. Terbelit dalam kerumitan, pikirkanlah solusi; bukan kesulitannya. Karena hal ini akan menjelma beban.

Serahkan pada sang Penguasa semesta, karena Allah swt maha berkehendak. Entah bagaimana penyelesaiannya, terkadang tak pernah sedikitpun terbayang dalam pikiran. Lantas untuk apa lagi ragu? Bila tak sanggup membina diri, bersama iman dan taqwa padaNya, tunggulah kebinasaan itu dari jalan yang tak disangka -sangka.




Yang Akan Dibanggakan

Yang Akan Dibanggakan
Menara Siger Lampung