Rabu, 11 Januari 2017

Mengenal Alam Lebih Dekat di Agro Wisata Naga Gempur



Sabtu cerah, para siswa kelas satu SDIT Permata Bunda 1 Bandarlampung sudah bersiap melakukan kunjungan. Segala perbekalan sudah disiapkan dalam tas gendong yang semakin gembung. Hari ini semua siswa dan para guru akan mengunjungi Agro Wisata Naga Gempur. Berlokasi di Natar. Masuk gang SMP Swadipa, sekitar lebih kurang 1 Km, kemudian belok kiri. Lama perjalanan hanya sekitar 10 menit dari sekolah dengan mengendarai mobil. Biaya masuk setiap orang Rp. 10.000. Tempat seperti apa Naga Gempur itu? Yang pasti ini adalah tempat untuk belajar lebih dekat dengan alam sambil bergembira. 

Seluruh siswa sudah berbaris di depan Wisma Gempur. Dipandu oleh para trainer dan pak tani yang ramah, anak – anak menjadi nyaman. Para guru mendampingi di belakang barisan siswa. Setelah berkenalan dan mendengarkan arahan dari para pemandu, anak – anak menerima caping pak tani, untuk dikenakan ketika beraktivitas nanti. Luas tanah pertanian di Naga Gempur sekitar lebih kurang 5 hektar. Terdiri dari lahan persawahan, perkebunan, dan juga perikanan. Di awal masuk gerbang tempat wisata ini, kita akan menemukan banyak sekali pohon Naga. Daunnya seperti kaktus. Itulah sebabnya bernama Naga Gempur, karena juga membudidayakan tanaman buah Naga. 

Sebelum memulai kegiatan, anak – anak beristirahat di wisma gempur sejenak untuk menikmati segelas teh hangat dan hidangan singkong goreng dengan wadahnya daun jati yang telah disemat dengan batang lidi. Aroma kampung makin terasa. Angin semilir, langit biru membentang terlihat jelas tanpa penghalang. Pohon – pohon hijau menyejukkan mata. Terlebih lagi dinding Wisma Gempur yang masih geribik anyaman bambu, menambahkan kesan sederhana dan alami. Setelah mengisi perut, maka para petani cilik bersiap – siap untuk beraksi. Memakai caping pak tani, selain melindungi dari panas terik, ternyata keren juga. Celana dilipat sampai terlihat mata kaki. Sepatu dan kaos kaki ditanggalkan. Semua siap terjun ke lahan pertanian. 

Aktivitas pertama anak –anak adalah menanam jagung. Bagaimana cara menanam jagung? Ternyata ada tahapan – tahapannya. Setelah tanah dipacul sehingga bersih dari tumbuhan lain, maka tanah dilubangi dengan sebatang kayu yang memang sudah sengaja dibuat untuk aktivitas ini. Ujungnya dibuat meruncing seperti bambu runcing para pahlawan kita dulu, kemudian diberi bibit yang memang sudah diberi pupuk. Dilanjutkan dengan menutup bagian tanah yang sudah ditanami tadi. Anak – anak melakukannya dengan antusias. Mereka bersemangat dan melaksanakan tugas bersama. Pembagian tugas pun dilaksanakan. Setelah semua lahan selesai ditanami, tentu saja pak tani pemandu masih mendampingi, aktivitas terakhir adalah menyirami tanah tadi. Anak – anak membawa penyiram bersama – sama. Semuanya ingin ikut serta. Ternyata untuk mendapatkan satu buah jagung yang bisa kita nikmati dalam aneka olahan, harus penuh perjuangan. Berpanas – panasan, ketekunan menunggu hingga batang pohon membesar, sampai akhirnya berbuah baru kemudian dipanen. Pak tani yang baik hati tetap memberi pengarahan dengan bahasa yang ringan dan mudah dipahami anak – anak.

Meskipun sudah berpanasan, mereka masih semangat. Keringat sudah bercucuran, caping sesaat dilepas kemudian dikipas – kipaskan, petani cilik tetap ceria dan tak kenal lelah. Kegiatan selanjutnya adalah memetik kangkung! Lho, bukannya tadi menanam jagung? Mengapa panennya kangkung? Inilah agro wisata Naga Gempur. Setelah bersusah – susah menanam, maka kegembiraan ketika panen juga langsung dirasakan oleh anak – anak. Semuanya memetik kangkung sesuai arahan pak tani. Subhanallah, para petani cilik mahir sekali memanen kangkung. 

Masih belum lelah! Matahari sudah sepenggalah naik. Sekitar pukul setengah sepuluh. Anak – anak diajak ke sawah. Kali ini akan menanam padi. Tapi, tunggu dulu. Sebelum ditanami, tanah arus dibajak. Istimewanya di tempat ini masih menggunakan bajak tradisional, dengan tenaga manusia dan sapi. Kegembiraan tak dapat ditutupi ketika mereka melihat sapi. Hewan yang salalu diminum setiap pagi susunya, namun melihat aslinya mungkin hanya sebatas di televisi. Yang lebih menggembirakan lagi adalah mereka berkesempatan menaiki bajak dan berkeliling membajak sawah bersama dua ekor sapi. MasyaAllah, keceriaan yang tak terbendung. Ada juga yang kena sabet ekor sapi, tapi tetap saja mereka tertawa. Itu adalah pengalaman yang unik. Setiap anak mendapat kesempatan menaiki bajak. Akhirnya, tibalah masa menanam padi. Celana dilipat sampai lutut. Kaki tercebur ke tanah berlumpur. Mereka menanam padi dari depan terus mundur ke belakang. Ada juga anak yang merasa jijik, namun itu hanya di awal saja. Setelah selang beberapa menit, akhirnya terpengaruh juga dengan kegembiraan anak – anak yang lain. Bahkan ada yang melempar lumpur, serasa bermain di salju. Aduhai, anak – anak. Ada saja ide kreatifnya.

Tak henti sampai di situ, aktivitas berlanjut ke kolam sebelahnya. Menangkap ikan! Kolam yang hanya sepinggang anak – anak itu langsung diserbu. Awalnya ikan masih tampak, mereka bersorak begitu melihat ada kecipak air. Mereka mengejar dan berusaha menangkap. Namun gerak ikan lebih lincah. Ada ikan lele, gabus, dan ikan jenis lain di kolam itu. Karena semua anak – anak masuk ke kolam, maka kejernihan air tersulap seketika menjadi keruh. Kolam ikan, berubah menjadi kolam lumpur. Anak – anak sudah tak pedulikan kagi bagaimana penampilan mereka, yang awalnya lucu dan imut berubah menjadi dekil bahkan super dekil. Perjuangan masih berlanjut. Mereka bercita – cita membawa ikan pulang untuk digoreng. Ada yang berhasil mendapatkan seekor ikan gabus, anak itu menggenggamnya erat. Si ikan sudah sekarat. Cepat – cepat diletakkan di ember yang sudah diisi air bersih, yang memang sudah disiapkan sejak tadi. Hal ini makin menambah semangat yang lain untuk terus mencari. 

Usai berenang – renang di lumpur, anak – anak membersihkan diri di kamar mandi yang tersedia di tempat ini. Berganti pakaian yang bersih, wajah lucu dan imut mereka kembali nampak. Menjelang dhuhur, anak – anak makan siang di pondokan yang sudah disiapkan. Berlanjut sholat dhuhur berjamaah di wisma gempur. Benar – benar pengalaman yang lain dari yang lain. Hampir semua anak berencana kembali lagi ke Naga Gempur. Di perjalanan pulang cerita – cerita seru pun bermunculan. 

Alhamdulillah, perjalanan yang menyenangkan dan pengalaman tak terlupakan bagi anak - anak. Oleh – oleh hari ini adalah seikat kangkung untuk bunda, dan juga beberapa ekor ikan hasil tangkapan tangan sendiri. Dan ada lagi, yang akan menambah senyum bunda makin rekah, pakaian kotor berlumpur! Tak apa, dengan begitu anak – anak jadi banyak belajar.

22:33 wib

alhamdulillah, sudah diterbitkan dalam buku antologi bersama kisah perjalanan flp wilayah lampung. 17 KISAH PERJALANAN DARI LAMPUNG HINGGA CANBERRA.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

TERIMAKASIH TELAH SINGGAH

Perjalanan hidup manusia berputar seperti roda. Suatu saat akan berhenti, bila telah tiba di tujuan. Namun, adakalanya roda itupun berhenti karena hambatan. Hidup beserta masalah adalah lumrah. Memang demikian adanya. Hidup tanpa masalah mungkin juga ada. Akan tetapi, itulah masalahnya, mengapa bisa tidak ada masalah? Normalkah?

Maka kembali pada bagaimana kita menyikapi. Terbelit dalam kerumitan, pikirkanlah solusi; bukan kesulitannya. Karena hal ini akan menjelma beban.

Serahkan pada sang Penguasa semesta, karena Allah swt maha berkehendak. Entah bagaimana penyelesaiannya, terkadang tak pernah sedikitpun terbayang dalam pikiran. Lantas untuk apa lagi ragu? Bila tak sanggup membina diri, bersama iman dan taqwa padaNya, tunggulah kebinasaan itu dari jalan yang tak disangka -sangka.




Yang Akan Dibanggakan

Yang Akan Dibanggakan
Menara Siger Lampung