Minggu, 29 September 2013

Surat Kaleng



Para siswa kelas 1 Al Biruni sudah berkumpul memebentuk empat gerbong. Gerbong paling tertib akan pulang lebih dahulu. Wow, mereka langsung tertib. Biasanya aku akan menambahkan syarat – syarat lain agar anak – anak kembali semangat meskipun sampai detik terakhir meninggalkan kelas. Misalnya: Bu guru akan memilih siswa yang gayanya paling keren. Siswa yang sudah rapi pakaiannya, berkaos kaki, jilbab rapi, rambut rapi. Siswa yang tersenyum dari lubuk hati yang paling dalam ( Memangnya seperti apa lubuk hati itu? Memang abstrak, tapi anak – anak sudah paham. Mereka akan tersenyum mengembang. Bahkan ada yang sambil memegang dada. Mungkin mereka tengah menunjukkan bahwa senyum yang tersaji benar – benar dari hati). Siswa yang giginya sudah terlihat dua. Hmm, terkadang gurunya saja bingung bagaimana hanya memperlihatkan dua gigi saja. Anak – anak tentu yang paling kaya ide. Mereka akan menutup beberapa gigi depan dengan jemari. Memang dahsyat kecerdasan anak – anak itu ya?

Kalau sudah kondusif begini, paling nyaman untuk menyisipkan pesan – pesan kepada anak – anak. Namun tiba – tiba ada kegaduhan. Tuiiing… ada sesuatu yang mendarat di kepala Bagas. Kertas yang sudah diremas – remas, kemudian dibentuk bola. Meskipun hanya kertas, tetap saja kalau bentuknya sudah seperti itu bunyinya “ Gedebum!” ( wuih, berlebihan..) Oh, tidak ya? Ya gitulah bunyinya. Kita abaikan bunyinya, kita simak pesan dari surat kaleng itu. Bagas sudah emosi tingkat tinggi.

“ Siapa tadi?!”

Teriaknya.

“ Bentar, Gas!”

Sahut Ahmad. Ia mengambil kertas itu dari tangan bagas. Dibukanya perlahan kertas tersebut. Mungkin ia bisa menebak dari tulisannya ( sepertinya berbakat jadi detektif). Atau ada nama penulisnya?

“ Tulisan siapa ini?!”

Teriak Ahmad kemudian. Tentu tak ada yang mengaku. Ada gambar seorang anak berjilbab di kertas itu, dan sebaris tulisan. Ya, sebagai guru tentu aku tahu siapa penulis dan penggambarnya. Yang pasti memang siswa putrid. Sebut saja Bunga. ( Hmm, bunga terus dari tadi. Ganti dong Bu Desma..) okelah, sebut saja Apel namanya.
“ Bagas itu yang paling ganteng di kelas Al Biruni.”

Ahmad membaca tulisan itu dengan lancer. Muka bagas memerah. Ia tersanjung. Senyum mulai mengembang. Namun ternyata ia masih ingat bahwa ia tengah dalam posisi marah. Diambilnya kertas itu. Sepertinya ia hendak meneriakkan sesuatu! Dan sebelum bom Hirishima meledak di Indonesia, aku lekas bertindak. Bagaimanakah tindakanku? Sederhana.

“ Tapi Bagas memang ganteng kok…”

Ucapku dengan tenang. Seketika itu ia tersenyum ahmad juga tersenyum. Siswa yang lain ber cie…cie…

“ Iya, Nak. Apalagi kalau pakai kacamata, tambah ganteeeng.”

Cie…cie… makin riuh. Memang tempo hari Bagas pernah membawa kaca mata plastic mainan ke sekolah. Ketika ia pakai, aku langsung berkomentar “ ganteng”. Alhamdulillah, bom tak jadi meledak! Malah adem seperti tersiram es. Bagas langsung membereskan kertas tadi dan membuangnya ke tempat sampah. Kasus ditutup. Setelah sampaikan pesan – pesan, anak – anak pun dipilh siapa yang pulang lebih dulu.

Ternyata kasus ini walaupun sudah ditutup tetap saja berlanjut. Apakah kelanjutannya? Label ganteng tetap melekat pada diri bagas. Jika aku bermain tebak gambar bersama anak – anak, dengan hanya menggambar seorang anak berambut rapi, tinggi, kusebut cirri – cirinya: “ Ia ganteng” satu kelas langsung menebak: Bagas! Kemudian bagas akan mereques:

“ Gambarnya pakai kacamata, Bu!”

Langsung kutambahkan kacamata meskipun aslinya Bagas tak berkacamata. Terkadang cara meredam emosi itu sederhana, ya?
                                       










Tidak ada komentar:

Posting Komentar

TERIMAKASIH TELAH SINGGAH

Perjalanan hidup manusia berputar seperti roda. Suatu saat akan berhenti, bila telah tiba di tujuan. Namun, adakalanya roda itupun berhenti karena hambatan. Hidup beserta masalah adalah lumrah. Memang demikian adanya. Hidup tanpa masalah mungkin juga ada. Akan tetapi, itulah masalahnya, mengapa bisa tidak ada masalah? Normalkah?

Maka kembali pada bagaimana kita menyikapi. Terbelit dalam kerumitan, pikirkanlah solusi; bukan kesulitannya. Karena hal ini akan menjelma beban.

Serahkan pada sang Penguasa semesta, karena Allah swt maha berkehendak. Entah bagaimana penyelesaiannya, terkadang tak pernah sedikitpun terbayang dalam pikiran. Lantas untuk apa lagi ragu? Bila tak sanggup membina diri, bersama iman dan taqwa padaNya, tunggulah kebinasaan itu dari jalan yang tak disangka -sangka.




Yang Akan Dibanggakan

Yang Akan Dibanggakan
Menara Siger Lampung